Mahasiswa Teologi
Kamis, 07 Desember 2017
Injil Matius
INJIL MATIUS
Pengarang Kitab Injil Matius
Menurut Willi Marxsen dalam bukunya “Pengantar Perjanjian Baru” mengatakan adanya nama pemungut cukai yang dipanggil sebagai murid Matius dan bukan Lewi bukanlah suatu petunjuk yang terselubung dari sipengarang melainkan berhubungan dengan kenyataan bahwa dalam daftar para murid tidak ada nama Lewi. Namun hal ini masih dugaan karena sumber-sumber tradisi Gereja di periksa menggunakan Injil bahasa Aram sedangkan Injil yang kita miliki menurut anggapan para ahli bukanlah terjemahan namun karangan asli Yunani. Sementara menurut J.Jeremias yang mengatakan bahwa ayah Matius mempunyai nama Lewi dan bahwa nama itu menjadi nama julukan bagi anaknya juga. Sementara menurut J.J.de Heer dalam bukunya “Injil Matius pasal 1-22” ditulis bahwa dalam Injil Matius sipengarang tidak menyebutkan namanya.
Nama Injil Matius yang biasanya dipakai hanya berdasarkan satu tradisi yang tua. Para ahli pada umumnya berpendapat bahwa mustahil Injil ini dikarang oleh Rasul Matius sendiri sebab dalam banyak hal Injil Matius mengambil ahli isi Injil Markus. Misalnya dalam ayat Matius 14:22-27 dan Markus 6:45-50 tidak masuk akal bahwa seorang murid Yesus yang hadir pada perbuatan-perbuatan Tuhan Yesus akan mengikuti cerita Injil Markus yang tidak hadir pada perbuatan-perbuatan itu. Pasti seorang murid Yesus akan memberi lukisannya sendiri. Namun demikian, bisa didapat alasan-alasan bahwa gereja tua menganggap bahwa ada hubungan antara Injil yang pertama dengan Rasul Matius.
Sementara menurut Jhon Drane dalam bukunya “Memahami Perjanjian Baru” yang menyatakan tidak ada kesepakatan tentang siapa penulis kitab Injil Matius ini dan kapan ditulisnya. Untuk sementara dapat dikatakan Kitab ini anonim dan tidak menyatakan siapa penulisnya. Tidaklah mudah kita untuk memahami siapa yang menulisnya dan siapa saksi dari peristiwa-peristiwa dalam kitab Injil Matius tersebut.
Dalam buku “Mengenal Kitab Perjanjian Baru 1” karangan Pdt. Haposan Silalahi, M.Th mengatakan Injil Matius ditulis oleh Rasul Matius dalam bahasa Ibrani atau Aram. Nampaknya tidak dapat disangkal bahwa Rasul Matius memang memakai sangkut-paut dengan Injil yang memakai namanya, bukan dalam isi, tetapi dalam judul, yang barang kali diikatkan pada Injil ini pada permulaan abad ke-2. Apa dan dalam bentuk apa sebenarnya hubunga Rasul Matius dengan Injil tidak dapat diketahui dengan tepat, tapi kalau bukan dia penulis Injil itu, besar sekali kemungkinan bahwa Ia adalah seorang pemimpin dalam masyarakat dimana Injil ini lahir (masyarakat yang dimaksud barangkali adalah semacam sekolah katekisasi).
Dalam kutipan yang diambil Pdt. Haposan Silalahi, M.Th “Para ahli Perjanjian Baru” berpendapat bahwa Injil Matius dikarang di Syria. Dan tidak dapat dipastikan bahwasannya Matius adalah penulisnya. Dalam buku ini juga terdapat sebuah kutipan yang diambil dari“Prof. K. Standhal” dimana ia berpendapat bahwa Injil Matius dikarang bukan oleh seorang saja, melainkan oleh kumpulan orang yang bekerjasama saling membantu. Sehingga penulis Injil Matius tidak dapat diputuskan secara tepat, tetapi yang jelas ia adalah seorang Kristen-Jahudi diwilayah Syria.
Yusak B. Hermawan dalam bukunya “my New Testament” menuliskan bahwa dari semua Kitab Injil, tak ada satupun yang menyebutkan penulisnya. Jika kita menemui Alkitab yang menulis nama, nama itu ditambahkan oleh para penerjemah Alkitab. Yusak B. Hermawan juga mengutip pendapat dari Ola Tulluan, bahwasannya para penulis itu lebih suka tidak diketahui namanya karena tidak mau mencuri kemuliaan Tuhan.
DR. J.T. NIELSEN dalam bukunya “Kitab Injil Matius 23-28” ia berpendapat bahwa Injil Matius ditulis oleh tokoh Lewi atau Matius yang tampil kedalam tiga Injil sinoptis.
Kenyataan bahwa ia disebut ‘Matius’ dan bukan ‘Lewi’ waktu ia dipanggil oleh Yesus untuk mengikuti-Nya tidak dapat dipakai sebagai alasan yang kuat bahwa dialah penulisnya. Apa dan dalam bentuk apa sebenarnya hubungan Rasul Matius dengan Injil ini tidak dapat diketahui dengan tepat, tapi kalau bukan dia penulis Injil ini lahir. Atau kalau bukan demikian, mungkin ia mempunyai peranan penting dalam pengumpulan dan penurunan bahan-bahan yang dimasukkan kedalam Injil itu. Susunan yang sistematis dari Injil itu sering dianggap menunjukkan tanda-tanda pekerjaan seorang pejabat cukai. Bagaimana juga, penulis Injil ini mungkin berpikir tentang tugasnya sendiri waktu ia menulis, bahwa “setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal kerajaan surga itu seumpama tuan rumah yang mengelurkan harga yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”
Tradisi gereja berabad-abad lamanya menunjukkan bahwa Rasul Matius yang disebut Lewi anak Alfeus adalah pengarang Injil Matius yang dibicarakan dalam Mrk. 2:14; Luk. 5:27-29, Mat.9:9, 10:3. Ia adalah seorang pemungut cukai dan kemudian menjadi pengikut Yesus.
Papias, Bishop di Asia Kecil pada abad ke-2, mengatakan bahwa Matius menulis hal-hal tentang Yesus Kristus dalam bahasa Ibrani, dengan alasan bahwa hanya Matius yang menjelaskan tentang siapa Matius dalam Mat. 10:3, yaitu Matius pemungut cukai, memang bila dilihat dari kemampuan menulis serta sistematisnya, maka Matius yang sebagai pemugut cukai yang sudah cukup terlatih dalam administrasi, akan lebih lancar dalam hal membuat catatan-catatan dari pada murid yang lain.
Para ahli Perjanjian Baru berpendapat bahwa “Injil Matius” dikarang di Syria. Mungkin rasul Matius pernah bekerja dalam daerah itu, sehingga jemaat-jemaat Kristen disitu menghormatinya sebagai ‘seorang Bapak’, begitulah dugaan Prof W. Grundmann dalam buku tafsirnya yang terkenal mengenai Injil Matius. Kalau itu benar maka orang yang mengarang ‘Injil Matius’ itu mungkin sekali dipengaruhi oleh cara mengajar Rasul Matius.
Sehingga banyak para ahli yang menyatakan tidak dapat dipastikan bahwa Matius pemungut cukai sebagai penulis Injil Matius. Maka prof. K. Stendahl berpendapat bahwa Injil Matius dikarang bukan seorang saja, melainkan oleh kumpulan orang yang bekerja sama saling membantu.
Sehingga penulis Injil Matiius tidak dapat diputuskan secara tepat, tetapi yang jelas ia adalah seorang Kristen-Jahudi yang hidup disalah satu pusat wilayah Siria. Selain itu ia juga menguasai kitab suci Perjanjian Lama dan tradisi hidup bangsanya.
Waktu Dan Tempat Kitab Injil Matius Ditulis
Tidaklah mungkin kita dapat memastikan kapan Injil Matius itu diselesaikan. Ada beberapa ahli yang mengungkapkan atau yang berpendapat tentang kapan dan dimana Injil Matius ini ditulis. Oleh karena itu mereka memasukkan dalam catatan-catatan sejarah mereka tentang kitab Injil Matius ini. Menurut J.J. de Heer dalam bukunya Injil Matius pasal 1-22 yang mengatakan bahwa Injil Matius dikarang sekitar 80 tahun. Dengan dua alasan :
Pada tahun 70 terjadi suatu peristiwa yang penting yaitu bait Allah di Yerusalem dibakar oleh tentara Romawi ketika orang Romawi mengalahkan orang Yahudi yang telah memberontak terhadap pemerintahan Romawi. Ahli-ahli pada umumnya menganggap hal itu sebagai suatu tanda bahwa injil Matius dikarang setelah pembakaran bait Allah yang terjadi pada tahun 70.
Orang Yahudi yang masih hidup setelah bait Allah dibakar tidak dapat mengejar tujuan politis lagi. Mereka memusatkan perhatiannya kepada suatu organisasi rohani dibawah pimpinan ahli-ahli taurat. Ahli-ahli taurat itu mulai membedakan dan lebih tegas ajaran yang benar dan aliran yang sesat. Antara lain ajaran Kristen dilarang secara tegas sebagai ajaran orang Yahudi. Dalam situasi itu sekitar tahun 80 Injil Matius dapat ditetapkan.
Injil Matius ini ditulis dalam bahasa Yunani, walaupun banyak ungkapan dan adat Yahudi telah dikenal (Matius 15:5) mengingatkan kita pada daerah diluar Palestina. Selain itu Injil ini diutamakan untuk pembaca Yahudi dan didukung oleh pusat Gereja. Menurut Prof.W.Grundmann dalam buku “Injil Matius pasal 1-22” bahwa pengarang Injil Matius hidup dibagian Selatan dari Syria dekat perbatasan Palestina.
Kesimpulan sementara:
Injil Matius ini ditulis antara tahun 72-85. Drs. M.E. Duyverman dalam bukunya “Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru” menuliskan bahwa sedikit sekali terdapat bahan-bahan tentang waktunya Injil ini dikarang. Dari Sastra Kristen diluar Alkitab, kita melihat bahwa kira-kira tahun 100 Injil ini sudah dikutip, jadi sudah diakui dan dihormati. Hal ini berarti waktunya dikarang sedikit sebelum tahun 100. Kesimpulannya Injil ditulis antara tahun 72-85. Tempat penulisan ini tertuju ke Antiokhia yang didukung oleh pusat gereja.
John Drane dalam bukunya “Memahami Perjanjian Baru” menyatakan bahwa waktu penulisan Injil Matius dapat ditentukan pada periode tahun 80-100 M (sesuai dengan pendapat mayoritas ahli), atau tahun pra-70 M, bahkan mungkin tahun 40-60 M (sesuai pendapat Robinson, Guthrie dan satu atau dua penulis Jerman).
Dalam buku ”Pengantar Perjanjian Baru” yang dikarang oleh Willi marxsen menyatakan bahwasannya Matius mungkin ditulis pada tahun 80-an di abad pertama. Mengenai tempat asal usulnya, kemungkinan satu-satunya adalah suatu wilayah kristen Yahudi, dan kemungkinan kita harus mempertimbangkan satu tempat di Siria.
Dalam buku “Kitab Injil Matius 23-28” oleh DR. J. T . NIELSEN menyatakan bahwa Injil Matius mungkin sekali ditulis antara tahun 80 dan 90 M, oleh tokoh Lewi atau Matius. Tempat penulisannya Syria, entah Syria bagian selatan (yang berbatasan dengan Galilea), atau kota Antiokhia di Syria utara.
B.F. Drewes dalam bukunya “Satu Injil Tiga Pekabar” mengemukakan bahwasannya Injil Matius disusun dalam periode antara 75-90 M, tentang tempat penulisan sendiri banyak ahli mengusulkan Syria sebagai tempat munculnya.
Waktu penulisan Injil ini sangat sulit untuk memastikannya. Kesulitan ini disebabkan banyak pendapat ahli yang menunjukkan waktu penulisan yang berbeda-beda. Tetapi yang jelas Injil ini ditulis setelah Injil Markus Kemudian dalam Matius 22:7 yang dapat menjadi petunjuk mengenai waktu penulisan Kitab ini adalah:
“maka murkalah raja itu lalu menyuruh pasukannya kesana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka”
Ayat tersebut merupakan sebagian dari suatu perumpamaan perjamuan kawin. Ayat ini ditafsirkan sebagai suatu peristiwa hukuman kepada banyak orang yahudi yang telah menolak perjamuan kerajaan Allah. Banyak ahli yang mengambil ayat ini sebagai tanda waktu penulisan Injil Matius dan menghubungkan dengan terbakarnya kota yerusalem pada tahun 70 oleh pemerintah Romawi. Oleh karena itu pembakaran Bait Allah sudah terjadi, maka Injil Matius menekankan peristiwa ‘pembakaran kota’ itu sebagai hukuman Tuhan kepada orang yang tidak mendengarkan peringatan dari-Nya. Jadi mengenai waktu penulisan Injil ini dapat disimpulkan antara tahun 75-90 Masehi.
Banyak ahli menunjuk Syria sebagai tempat penulisan Injil ini. Yang dapat dipakai sebagai petunjuknya yaitu Mat. 4:24a yang berkata :
“Maka tersiarlah berita tentang Dia diseluruh Syria... ...
Alasan lain adalah bahasa asing yang dipakai dalam kitab ini adalah bahasa Yunani. Pada zaman itu 20% penduduk Syria adalah orang Yahudi yang memakai bahasa Yunani. Selain itu pada abad pertama Masehi ada gereja purba disana.
C. Sumber-sumber Pengarang dalam Kitab Injil Matius
Tentang Injil Matius para ahli menganut hipotesis dua sumber yang artinya pengarang mempergunakan Injil Markus dan memakai Q (kependekan dari kata Jerman Quelle) yang berarti sumber terutama berisi kata-kata Yesus. Pada abad ke 20 hipotesis dua sumber sudah ada dan tetap dianut oleh ahli-ahi Perjanjian Baru.
Menurut John Drane dalam bukunya ada lima sumber pengarang dalam kitab Injil Matius antara lain :
Hukum baru : Cerita (pelayanan di Galilea, Mat. 3-4). Pengajaran (khotbah di Bukit, Mat. 5-7).
Pemuridan Kristen : Cerita (Mat. 8:1-9:34). Pengajaran (Mat. 9:35-10:42).
Makna Kerajaan : Cerita (Mat. 11-12). Pengajaran (Mat. 13:1-52).
Jemaat : Cerita (Mat. 13:53-17:27). Pengajaran (ketertiban, disiplin, ibadah Mat. 18).
Penghakiman : Cerita (pertentangan di Yerusalem Mat. 19-22). Pengajaran (mengenai kaum farisi Mat. 23-25).
B.F. Drewes dalam bukunya “Satu Injil Tiga Pekabar” menuliskan bahwa kitab Matius memakai bermacam-macam bahan untuk penyusunan Injilnya: ia mempergunakan Markus dan juga bahan Q serta bahan yang hanya muncul dalam Matius (bahan “M”). Seringkali – khusus dalam bagian kedua kitabnya – ia mengambil-alih bahan Markus dalam urutan seperti ada dalam Markus.
Drs. M. E. Duyverman meyatakan dalam bukunya “Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru” pokok yang sering disebut dua kali (doublet) terjadi karena pengarang yang mengulanginya.
Hampir semua bahan yang terdapat dalam Injil Markus terdapat pula dalam Injil Matius dan Lukas. Namun ada pula bahan-bahan yang terdapat pada Injil Matius dan Lukas, tetapi tidak terdapat dalam pada Injil Markus. Sumber yang dipakai kedua kitab ini adalah sumber “Q”. Dalam perikop Matius 6:19-24 oleh pengarang Injil Matius. Selain bahan Injil Markus dan sumber “Q” terdapat pada Injil Matius. Masih ada pula sumber lain. Apabila kita melihat bahan-bahan yang terdapat pada Injil Matius. Tetapi bahan-bahan tersebut bukan berasal dari Injil Markus dan sumber “Q” serta tidak terdapat pula pada Injil Lukas. Bahan-bahan tersebut bukan berasal dari tradisi-tradisi yang dilihat oleh pengarang Injil Matius. Yang disebut sumber “M”. Sumber “M” tersebut merupakan bahan khas dari Injil Matius, misalnya Matius 2:1-12; 6:1-8; 13:24-30.
Jadi sebagai kesimpulan mengenai sumber-sumber penulisan Injil Matius adalah dari Injil Markus dan sumber “Q”. Selain itu pula pengarang Injil Matius memiliki bahan khas Matius yang disebut sumber “M”, yang diterimanya melalui tradisi lisan dan tulisan.
D. Maksud dan Tujuan Kitab Injil Matius
Kitab Injil Matius mempunyai tiga maksud khusus; apologetis, dimana pengarang Injil Matius memperlihatkan bahwa Yesus Kristus yang dijanjikan para nabi dalam Perjanjian Lama sudah dipenuhi. Dengan jalan ini Injil Matius memberi bahan kepada orang Kristen untuk membela Agama Kristen dimuka orang Yahudi yang menolak Yesus sebagai Mesias (Matius 8:17). Kateketis, artinya kitab injil Matius memberi pengetahuan tentang pokok-pokok Agama Kristen secara teratur. Parenetis, artinya Injil Matius memberi nasehat atau teguran, pengarang Injil Matius menekankan bahwa dengan masuknya jemaat Kristen belum cukup bagi seseorang anggota untuk diselamatkan.
Menurut J.D.Kingsbury mengatakan bahwa tujuan kitab Injil Matius adalah untuk menunjukkan Yesus adalah anak Allah dan mesias.
Menurut Willi Marxsen kerangka ini sebenarnya sudah cukup menunjukkan suatu kecenderungan “penyejarahannya”, karena Matius menempatkan ‘sejarah’ Yesus dalam suatu konteks yang luas, membentang dari Abraham sampai permulaan misi Kristen. Adanya celah yang besar antara kelahiran dan penampakan Yesus didepan umum semata-mata.
muncul dari kenyataan bahwa penulis tak punya bahan ditangannya, karena pada mulanya Gereja mula-mula tidak menaruh minat terhadap biografi Yesus.
Menurut Drs. M.E. Duyverman maksud dan tujuan Injil Matius ialah untuk meyakinkan dengan sistematis dan dengan penuh hormat bahwa Yesus adalah Mesias yang sudah dijanjikan oleh Allah dalam Perjanjian Lama. Di dalam Dia Kerajaan Allah telah datang, dan akan berkembang sampai pada kesudahan alam. Barang siapa menerima Dia, ia menjadi anak kerajaan sorga, terang dunia, yang kebenarannya melebihi kebenaran yang sudah ada. Injil ini ditujukan untuk orang Yahudi.
Pdt. Haposan Silalahi, M.Th menyatakan sebagai mana penulisan dalam Injil Matius ini yang ditulis dalam bahasa Yunani, dan juga menggunakan istilah- istilah Aramaica, maka dapat dikatakan bahwa Injil ini di tulis bagi jemaat yang berbahasa Yunani memahami istilah Aramaica tersebut. Dengan demikian banyak para ahli sepakat bahwa Injil Matius ditujukan kepada lingkungan yang biasa dengan bahasa dan adat istiadat Yahudi.
Adapun tujuan Injil Matius ini adalah :
Tujuan Apologetis (pembelaan iman)
Katekhase (pengajaran)
Paranetis (nasehat, teguran)
Kesimpulannya adalah bahwa Injil Matius dituliskan bagi jemaat yang bisa berbahasa Yunani saja pada saat itu, dimana ini bertujuan sebagai pembelaan terhadap iman, pengajaran, memberikan nasehat, dan teguran-teguran.
F. Kanon dalam Injil Matius
Mungkin kesan pertama yang paling mencolok yang kita dapatkan tentang injil Matius ketika kita beralih dari Injil Markus ke Injil Matius ini adalah sangat meningkatnya jumlah ajaran Yesus. Matius memasukkan hampir seluruh Injil Kedua kedalam tulisan sepanjang satu setengah kali Injil Markus, dan sebagian besar dari bahan yang lebih itu merupakan ajaran. Pernyataan yang paling penting dalam maksud dan tujuan di tulisnya Injil Matius ini ialah untuk menyatakan perbandingannya dengan ajaran Musa (Taurat 5 Kitab) Yesus adalah nabi yang akan datang sesudah Musa (Kis. 3:22, 23).
Disamping itu, Matius menambah banyak bahan asli, misalnya kepada cerita tentang Yesus berjalan di atas air (Mrk. 6:45-52; Mat. 14:22-23), ditambahkan perumpamaan yang baru.
Namun, harus diperhatikan pula suatu hal yang penting yakni kutipan-kutipan Matius sendiri adalah sama dengan naskah bahasa Ibraninya, jadi pengarang adalah seorang yang tahu dan biasa mempergunakan Perjanjian Baru dalam bahasa asli. Selain kutipan-kutuipan itu, beberapa pribahasa masih menyatakan bahwa Injil ini mempunyai “pandangan Yahudi”: misalnya selalu digunakan istilah “Kerajaan Sorga” sebagai ganti “Kerajaan Allah”(Mat 3:2; 4:17; Mrk 1:15; Mat13:24, 31, 33, 44, 45, 47 – Mrk 4:26, 30 dll).
Perkembangan kanon dalam kitab Injil Matius adalah sebagai berikut:
Perkembangan sampai kira-kira tahun 180
Kepastian tidak ada dalam soal ini. Tetapi, atas dasar yang cukup kuat dapat dikemukakn dugaan: daftar nats Injil Matius mengenai mesias yang digunakan dalam pemberitaan, untuk meyakinkan bahwa Yesus ialah Mesias. Dan kumpulan perkataan Kristus, yang merupakan dasar untuk membentangkan pengajaranNya. Antara lain “logia”, karangan yang telah dkenal “papias”. Mungkin beberapa papirus yang didapati di Mesir, yang berisikan kata-kata Yesus juga, termasuk catatan serupa ini.
Perkembangan sampai kira-kira 120 ke atas
Pada fase perkembangan ini, diakui. Hal ini nyata dari pemberitaan dari para Bapa Rasul, dari karangan seperti Pengajaran Keduabelas Rasul, yang dengan nama asingnya disebut Didakhe.
Dari Tahun 180-220
Walaupun keterangan-keterangan dari zaman ini belum mencukupi, tetapi sumber-sumber sudah jauh lebih banyak, ada bebagai catatan dari Ireneus, Tertullianus, dan Klemen Alexandrius.
Dari Tahun 220 Sampai Tamat
Berdasarkan bahan-bahan dari Origenes, ia membuat daftar sebagai berikut:
Yang umumnya diakui ialah: keempat Injil, surat-surat Paulus, 1 Petrus, 1 Yohanes, Kisah Para Rasul dan Wahyu.
Yang disangsikan ialah: Surat Ibrani, 2 Petrus, 2 dan 3 Yohanes, Yakobus, Yudas dan Injil Ibrani.
Menurut Willi Marxsen mengatakan bahwa dari sudut pandangan historis penentuan kanon Perjanjian Baru terjadi secara kebetulan ini benar-benar bila dilihat dari dua arah: pertama-tama adalah suatu kebetulan bahwa hanya dokumen-dokumen itu yang sempat disimpan yang dapat diterima ke dalam kanon. Karena itu tidaklah mungkin kita menyebutkan Perjanjian Baru seperti apa yang kita temukan saat ini karena dalam arti sesungguhnya hanya kesaksian rasuli tentang Yesus sebagai penyataan Illahi yang dapat disebut kanonis. Namun pada pihak-pihak lain kanon ini hanya dapat dicapai melauli Perjanjian Baru.
B.F. Drewes menyatakan jika kita memperhatikan karya Matius sebagai penyusun atau redaktur Injilnya, kita dapat melihat bahwa beberapa cara menyusun yang terdapat dalam PL dipakai Matius juga. Umpamanya dengan mengulangi istilah atau perkataan tertentu, ia menyatakan bahwa istilah atau perkataan ini merupakan “kata kunci” dalam bagian yang bersangkutan. Berikut adalah dua contoh baru penyusunan oleh Matius, dimana hal susunan konsentris kelihatan. Kedua contoh itu ialah 1) 4:17 – 11:1 dan 2) 13:1 – 52.
1). 4:17 – 11:1. Bagian ini dimulai dan diakhiri dengan catatan bahwa Yesus “memberitakan”. Jadi, disini ada suatu “inklusio”. Ditengah kedua ayat ini kita mendengar pemberitaan Yesus, yang memang meliputi pengajaran dan penyembuhan, seperti yang jelas dari 4:23 dan 9:35. Dalam kedua nats ini kita membaca (terjemahan harfiah) tentang ketiga hal tersebut:
Yesus “mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil kerajaan. dan menyembuhkan segala penyakit dan segala kelemahan...”
Dari uraian diatas kiranya sudah jelas bahwa Matius adalah redaktur yang bekerja dengan teliti; ia menyusun dengan persis, agar- melalui bentuk yang ia pakai – ia menggambarkan dengan terang siapa Yesus Mesias, bagi dunia ini.
Drs. M.E. Duyverman menyatakan ragam-ragam kutipan yang terdapat pada Injil Matius itu berlainan: pada umumnya kutipan-kutipan yang juga terdapat dalam Markus dan Lukas, mirip dengan bunyi septuaginta, sedangkan yang khusus kepunyaan Matius adalah sesuai dengan punya Ibrani. Jadi ini menjadi bukti, betapa kuatnya pengarang bersandar pada sumbernya. Jika Matius yang ditulis lebih dahulu, maka agaknya semua kutipan itu akan sama ragamnya, entah sesuai dengan septuaginta atau dengan masora. Kutipan-kutipan Matius sendiri adalah sama dengan naskah bahasa Ibraninya, jadi pengarang adalah seorang yang tahu dan biasa mempergunakan Perjanjian Lama dalam bahasa asli. Selain kutipan-kutipan, beberapa peribahasa masih menyatakan bahwa Injil ini mempunyai “pandangan Yahudi”.
Rabu, 06 Desember 2017
Makalah bibliologi
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan atas berkat dan karunianya yang melimpah, hingga pada saat ini Tugas ini dapat selesai tepat pada waktunya. Sebelumnya penulis menyadari bahwasannya banyak kekurangan dalam Tugas kami ini karena keterbatasan sumber dan keterbatasan pengetahuan dari penyaji/penulis.
Demikian kiranya, semoga karya tulis ini dapat bermanfaat dan dapat memberikan ilmu yang cukup untuk mengetahui topik mata kuliah yang diberikan. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pada masa ini banyak orang yang meragukan Alkitab sebagai Firman Tuhan. Para ahli berpendapat bahwa Alkitab hanyalah sebuah karya sastra yang sama dengan buku-buku sejarah lainnya. Ini menyebabkan banyaknya polemik dan perdebatan tentang hal itu. Namun secara iman Kristen mengakui bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang hidup yang berisi tentang pegangan hidup orang Kristiani.
Di zaman modern sekarang ini pasti banyak yang bertanya tentang Alkitab, bahkan banyak yang mengatakan bahwa Alkitab yang ditulis sekarang telah diperbaharui dari Alkitab yang sebenarnya atau palsu. Ini merupakan pandangan yang telah di konsumsi banyak orang termasuk orang-orang non Kristen, dan ini bisa berdampak buruk jika tidak bisa memberikan jawaban dengan baik dan tepat.
Disinilah saya akan memaparkan pandangan-pandangan tentang alkitab dan proses terjadinya Alkitab sehingga kita dapat memastikan bahwa Alkitab itu Firman Allah yang eksis sampai kesudahan zaman.
BAB 2
1. Apakah Itu Alkitab ?
Alkitab berasal dari bahasa Yunani, “Biblos” yang artinya buku atau kitab. “Ta Biblia”, “Biblion” adalah bentuk jamak yang artinnya buku-buku atau kitab-kitab dari kata tersebutlah muncul kata “Bible” dalam bahasa inggris, lalu diterjemahkan kedalam bahasa indonesia menjadi Alkitab. Alkitab adalah kumpulan kitab yang terdiri dari 66 kitab yang dibentuk dan disatukan melalui proses kanonisasi yang artinya adalah “standar” atau “ukuran”. Alkitab adalah kumpulan kitab yang terdiri dari 66 kitab yang diproses melalui apa disebut kanonisasi. Kanonisasi dari kata "Kanon" artinya "standar" atau "norma" atau "peraturan”. Jadi Alkitab adalah tulisan yang memenuhi standar.
Alkitab adalah firman Allah, karena firman Allah berkuasa, ia tentunya menyampaikan sesuatu yang mempunyai arti. Firman Allah bukanlah kuasa yang berdiri sendiri tanpa mempunyai arti. Firman itu berkata-kata, dan memberikan pesan kepada umat manusia, oleh sebab itu sudah seharusnya manusia mengenal alkitab agar dapat mengenal siapa itu Allah, mendengar, mentaati perintah dan petunjuknya. Hal tersebut menunjukkan bahwa Alkitab adalah firman Allah yang berkuasa dan sekaligus berarti.. Alkitab tidak boleh dianggap sebagai dokumen untuk studi akademis saja karena ia dapat saja mepunyai arti bagi orang yang mempelajarinya, tetapi firman itu sendiri tidak akan memberikan daya kuasa yang efekif.
Alkitab bukanlah hanya sebuah catatan atau karya tulis yang dibuat dan direkayasa oleh nabi dan rasul, melainkan adanya Alkitab itu karena Allah berinisiati mengilhamkan kepada para penulisnya firman tersebut, sehingga mereka menghasilkan tulisan tanpa salah dan secara akurat menyampaikan firman dan kehendak Allah.
Alkitab adalah satu-satunya sumber dari sgala pengetahuan manusia tentang Allah. Allah tetap berinisiatif menyatakan dirinya secara khusus melalui alkitab sehingga alkitab menjadi satu-satunya patokan yang berotoritas bagi orang percaya. Jadi sebagai manusia biasa, mungkin banyak dari kita yang bertanya apakah Alkitab itu memang firman dari Allah? Untuk menjawabnya mari kita lihat judul berikutnya.
Banyak yang orang atau golongan yang tidak menerima Alkitab sebagai firman Allah. Ada yang mengatakan bahwa Alkitab bukan firman Allah dan ada pula yang lebih halus sikapnya dengan mengatakan bahwa Alkitab berisi firman Allah. Pandangan yang pertama jelas bertentang dengan iman Kristen sedangkan yang kedua barangkali masih mengakui bahwa dalam Alkitab ada bagian-bagian tertentu yang merupakan firman Allah tetapi selebihnya bukan firman Allah. Jadi ini pun tidak dapat diterima.Sebenarnya dari asal-usulnya saja, kita bisa melihat bahwa Alkitab itu adalah firman Allah. Itu tak terbantahkan. Namun di sini kita akan mempelajari sedikit bagaimana Alkitab bisa dikatakan sebagai firman Allah. Alkitab disebut firman Allah, pertama karena Allah sendiri yang mengilhami seluruh penulisan isi Alkitab (2 Tim 3:16), tidak ada satu bagian pun dari Alkitab yang tidak diilhamkan Allah.
Lalu yang kedua, Alkitab disebut firman Allah karena di dalam Alkitab sendiri tertulis sekian banyak kalimat yang menegaskan bahwa Alkitab adalah firman Allah, misalnya berfirmanlah Allah (Kej. 1:3), firman Tuhan datang kepadaku, bunyinya (Yer. 1:4), ucapan ilahi dalam penglihatan nabi Habakuk (Hab. 1:1), Inilah wahyu Yesus Kristus (Wah. 1:1) dan masih banyak lagi yang lain. Kalimat-kalimat ini sudah lebih dari cukup untuk memberikan kesaksian bahwa Alkitab sebagai firman Allah.
Dan yang ketiga, kesaksian tokoh-tokoh di dalam Alkitab ikut meneguhkan kebenaran Alkitab sebagai firman Allah. Para penulis Perjanjian Baru seringkali mengutip ayat-ayat dari Perjanjian Lama dengan menganggapnya sebagai firman Allah contohnya Mat. 4:14-16 dan Yoh. 19:24. Dan yang keempat pengakuan Tuhan Yesus sendiri membenarkan bahwa Alkitab sebagai firman Allah. (Mrk. 12:10; Mrk. 7:6-7).
Sifat-sifat Alkitab adalah sebagai berikut :
Alkitab tidak mungkin keliru. Alkitab ditulis bukan atas kehendak manusia melainkan oleh dorongan Roh Kudus. Terjemahan atau cetakan bisa saja salah tetapi tulisan atau naskah asli tidak mungkin keliru.
Alkitab mutlak dibutuhkan manusia. Roma 10:17 mengatakan “iman timbul dari mendengar akan firman Kristus”. Tanpa Alkitab manusia tidak dapat mengetahui pernyataan-pernyataan Allah yang memanggil manusia kepada pertobatan melalui Yesus Kristus.
Alkitab berkuasa dan berwibawa. Alkitab sebagai firman Allah mempunyi kewibawaan / otoritas tertinggi dalam kehidupan manusia. Karena firman Allah Ya dan Amin. Ia tidak perlu dibela oleh siapapun karena ia mampu membela diriNya sendiri.
Alkitab adalah cukup. Alkitab tidak perlu didukung dengan buku-buku ataupun pernyataan-pernyataan lain sehingga tidak seorangpun boleh menambah ataupun mengurangi isinya (Wahyu 22:18-19)
Alkitab adalah terang. Kalau Akitab sulit dimengerti, maka tidak berarti bahwa Alkitab kurang terang.yang menjadikan ia kurang terang adalah akal budi kita sendiri yang gelap.
Alkitab mencapai maksud dan tujuannya. Adapun maksud dan tujuan Alkitab adalah memanggil dan menghantar manusia kepada keselamatan oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.
Alkitab merupakan satu kesatuan. Sekalipun ditulis oleh kurang lebih 40 orang, Alkitab tidak saling bertentangan isinya dengan yang lain. Karena semua digerakkan oleh Roh Kudus.
2. Apakah Alkitab itu benar-benar merupakan firman Allah ?
sebagai firman Allah yang benar sudah seharusnya Alkitab tidak mempunyai kesalahan, memiliki kewibawaan, asli dan bersumber dari Tuhan, dan ditulis memang berdasarkan inspirasi yang diberikan oleh Tuhan. Jadi apakah Alkitab memang benar firman dari Allah ? berikut adalah uraiannya sesuai dengan tugas kelompok yang diberikan akhir-akhir ini.
A. Innerency (firman Tuhan tidak memiliki kesalahan)
Dari penjabaran diatas tersebut mengantar kita untuk bertanya apakah Alkitab kita tidak memiliki kesalahan?. Kita telah melihat bahwa keadaan Alkitab bukan karena hasil karya manusia semata tetapi keseluruhannya adalah karya Roh Kudus melalui para penulis. Hal ini berarti bahwa otoritas tertinggi adalah Allah. Jika Allah yang bekerja dalam pembuatan Alkitab, Alkitab berkuasa dan tidak mengandung kesalahan sedikitpun.
Kata ineransi (inerrant) yang dalam arti sederhana tidak ada kesalahan. Namun dalam istilah teologis, tidak sesederhana itu. Kata ineransi dapat diartikan bahwa Alkitab memiliki kualitas bebas dari salah, kemungkinan untuk kesalahan, dan tidak dapat salah baik secara akademis, historis maupun spiritual. Untuk lebih jelas dapat dipahami melalui sebuah silogisme sederhana yang menacu pada topik sebelumnya bahwa Alkitab berasal dari Allah.
Pernyataan 1: “Allah adalah benar.”
Pernyataan 2: “Alkitab berasal (dinafaskan/diilhamkan) dari Allah.”
Kesimpulan : Maka Alkitab adalah benar [karena diinspirasikan oleh Allah yang benar].
Ineransi selalu merujuk kepada manuskrip yang asli yang berarti bahwa pada waktu fakta diketahui, Alkitab dalam tulisan aslinya, apabila diinterpretasikan dengan benar akan terlihat sepenuhnya benar dalam setiap pengajarannya yang berhubungan dengan segala aspek yang termaktub dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Dari silogisme di atas, maka segala kritik yang meragukan kewibawaan Alkitab sesungguh sekaligus menjadi keraguan secara langsung terhadap natur Allah. Hal ini bukan pembelaan skeptis tetapi sebuah koherensi yang runtut dalam keseluruhan Alkitab. Dengan demikian, ineransi Alkitab dapat dimengerti bahwa Alkitab benar dalam keselruhan dan dalam semua bagian, benar secara rohani, historis dan akademis, secara moral, maksud dan peneguhan tidak bisa salah. Allah berbicara kepada manusia dalam bahasa Alkitab (bisa disebut bahasa manusia) yang sepenuhnya adalah penyataan Allah sehingga tidak dapat dipertentangkan (secara umum pertentangan dalam iman dan penalaran).
Ketidak-kakuan dalam ineransi Alkitab dapat dilihat dalam beberapa hal bahwa ineransi mengijinkan adanya keragaman dalam gaya bahasa, keragaman rincian dalam menjelaskan peristiwa yang sama, untuk tidak menggunakan tata bahasa yang standar, ayat-ayat problematik. Ineransi juga tidak menuntut laoran kata demi kata dari suatu peristiwa dan juga tidak menuntut catatan itu mengajarkan kesalahan atau kontradiksi. Jadi, otoritas Alkitab tidak kurang dari otoritas Yesus Kristus sendiri karena Ia sendiri yang telah meneguhkan pengilhaman PL dan menyajikan dan menjanjikan PB. Kesaksian Yesus dan para rasul bersifat inerrant pada apa yang diajarkan. Alkitab yang ada saat ini adalah Firman Tuhan. Ineransi menjadi doktrin yang penting apabila dimengerti dengan benar. Alkitab berbicara secara akurat sesuai dengan kebenaran dalam semua penyataannya; baik itu hal teologis, historis, geografis dan geologis.
Meskipun demikian bukan berarti menutup kemungkinan adanya terhadap teori ineransi alkitab ini. Mengenai kebenarannya dapat disimpulkan bahwa kesalahan-kesalahan dapat mengajarkan kebenaran. Hal ini mungkin tidak beralasan karena hal-hal kroologis terlalu tercampur adukkan dengan hal-hal teologis. Oleh sebab itu, muncul pernyataan bahwa jika Alkitab tidak dapat dipercaya dalam hal kronologis historis, Alkitab tetap dapat dipercaya dalam hal kebenaran dan berita keselamatannya.
Alkitab telah terbukti secara historis tanpa salah selama lebih dari 3500 tahun sejak pembuatannya hingga hari ini, tidak ada satu keraguanpun yang ditujukan kepada supremasi Alkitab yang bertahan selama itu. Tidak ada karya manusia yang bertahan lebih dari dua abad, semuanya mengalami permaharuan. Itu berarti bahwa Alkitab bukan karya manusia tetapi Allah, yang kekal. Akhirnya, ‘Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2Ti 3:16)”. Jangan mempertanyakan otoritas Alkitab karena dengan demikian kita mempertanyakan keberadaan Allah.
B. Athority (kewibawaan Alkitab)
Defenisi seluruh alkitab adalah firman Allah; tidak mempercayai. Atau mentaati Alkitab berarti tidak percaya atau tidak taat kepada Allah. Dengan kata lain Alkitab memegang otoritas tertinggi dan terakhir untuk iman dan kehidupan orang percaya, karena Alkitab adalah firman yang datang dari Allah sendiri.
Bukti kewibawaan Alkitab dapat kita buktikan dengan banyak pembuktian contohnya yaitu, Banyaknya penggunaan kalimat "Demikianlah firman Tuhan...."yang identik dengan kalimat "Demikian kata Raja...". Hal ini menunjukkan bahwa alkitab berasal dari perintah atau mandat Allah, pemegang otoritas tertinggi, yang tidak dapat diubah-ubah dan harus dilaksanakan.(Mazmur 119 : 142, Mazmur 19:8, 2 Petrus 1 : 21) "Sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah."
Alkitab bukan sekedar buku biasa yang berisi pengalaman religi masa lalu seperti yang diyakini oleh sebagian orang tetapi merupakan wahyu/penyataan Allah (divine revelation). Allah menyatakan diri-Nya melalui Alkitab.
Alkitab berisikan kesaksian menyeluruh mengenai Allah yang menyatakan diri-Nya, kehendak-Nya serta karya penciptaan, pemeliharaan, penyelamatan, dan penggenapan-Nya kepada manusia dan dunia. Kesaksian Alkitab mengenai Allah ini cukup dan menjadi ukuran (kanon) bagi iman kita dan untuk menggumuli kehidupan iman kita dalam kesetiaan kepada-Nya. Kesaksian menyeluruh ini dipahami dan diajakan secara utuh (2009: 345)
Alkitab disebut pernyataan/wahyu Allah karena Roh Kudus berperan dalam mengilhami para penulis Alkitab. Allah menyatakan diri-Nya dalam Alkitab.
Alkitab ditulis dan disusun dengan kuasa dan bimbingan Roh Kudus, yang menyertai dan mengilhami para penulis dan penyusunnya. . . Dari sejarah tentang Alkitab kita mendapatkan informasi betapa rumit proses penulisan, pengumpulan, pelestarian kitab-kitab dalam Alkitab kita. Tidak dapat dibayangkan proses ini sebagai hasil dari perencanaan manusia saja. Karena itu kita percaya bahwa Roh Kudus berperan dalam hal ini (2009: 346, 347).
Bagaimana cara kia untu memahami Alkitab ?
Alkitab harus dipahami sebagai satu kesatuan, terutama ketika kita berusaha mendalami bagian-bagiannya. Kita menyadari adanya bahaya pemahaman yang menyimpang dari maksud Alkitab sebenarnya bila bagian-bagian Alkitab dipahami seolah-olah berdiri sendiri, atau dilepaskan satu dari lainnya. Dengan begitu kita tidak boleh mengabaikan keutuhan Alkitab yang tersedia bagi kita dan mengabaikan Pusat yang menyatukannya yaitu Kristus (2009: 346).
Pemahaman yang benar mengenai isi Alkitab serta penghayatannya terjadi dengan bimbingan Roh Kudus (Yoh 16:15, II Pet. 1:20-21). Semua perlengkapan yang teruji untuk membantu kita memahami Alkitab patut diabdikan bagi pemahaman yang benar. Di dalamnya kita percaya Roh Kudus bekerja, bukan saja secara ajaib tetapi juga secara wajar (2009: 348).
C. Inspiration (inspirasi Alkitab)
Inspirasi dapat didefenisikan sebagai pimpinan rohkudus pada para penulis, sehingga meskipun penulisan dilakukan dengan penulisan gaya dan kepribadian mereka, hasilnya adalah firmn Allah yang tertulis yang berotoritas, patut dipercaya dan bebas dari salah dalam autograf yang asli. Beberapa defenisi dari para teolog injili yang ternama adalah sebagai berikut.a
Benjamin B. Warfield: “ Oleh karena itu, Inspirasi biasnya didefenisikan sbagai suatu pengaruh supranatural dari Roh Allah yang menggerakkan par a penulis kitab suci, ssehingga tulisan mereka diyatakan memiliki kepatutan diipercya yang bersifat ilahi.
Edward J. Young inspirasi adalah pimpinan Allah roh kudus atas para penulis kitab suci, akibatnya, kitab suci itu memilki otoritas ilahi dan patut dipercaya. Dan karena memilki otorita ilahi serta patut dipercaya seperti itu, maka ia bebas dari salah.
Charles C. Ryrie : “ inspirasi adalah pimpinan Aallah atas penulis manusia dimana melalui penggunaaan kepribadian mereka masing-masing, mereka menyususn dan mencatat tanpa salah wahyu Allah pada manusia dalam kata-kata dari autograf yang asli
Unsur penting dalam defenisi Inspirasi :
1. Unsur ilahi Allah rohkudus memimpin para penulis untuk menjamin keakuratan dari tulisan.
2. Unsur manusia. Para penulis manusia menulis dengan cara dan kepribadian mereka masing-masing.
3. Hasil dari penulisan ilahi dan manusia ini adalah catatan dari kebenaran Allah yang tnpa salah.
4. Inspirasi meliputi seleksi kata-kata oleh par penulis.
5. Inspirasi berhubungan dengan manuskrip.
Alkitab itu diberikan melalui ilham Allah sebagaimana Rohkudus bekerja di dalam orang-orang yang dipilih, menyatakan kepada mereka pikiran Allah dan memampukan mereka untuk menggunakan kata-kata yang tepat untuk mengkomunikasikan kebenaran Allah tanpa kesalahan. Ilham (inspirasi) berasal dari kata latin yang artinya “bernafas dalam” atau “ke dalam” (in dan spiro) dan dari kata Yunani yang artinya “nafas Allah” (Theopneustos). Allah menaruh Rohkudus ke dalam para penulis Alkitab dan melalui Dia, membimbing mereka di dalam menuliskan Alkitab, maka “inspirasi” dapat didefinisikan sebagai proses melalui mana Allah menghembuskan Roh-Nya ke dalam manusia untuk memampukan mereka untuk menerima dan mengkomunikasikan kebenaran Ilahi tanpa kesalahan. Alkitab adalah Allah berbicara!
Para penulis Alkitab menulis, baik tentang fakta-fakta yang mereka ketahui maupun fakta-fakta yang mereka tidak ketahui tanpa ilham. Fakta-fakta yang mereka ketahui berasal dari pengamatan pribadi, dokumen-dokumen yang ada, atau tradisi mulut. Kebanyakan dari apa yang mereka tulis mereka ketahui untuk pertama kali melalui inspirasi dari Allah, baik mereka menulis fakta-fakta yang mereka ketahui atau wahyu, ilham Allah membimbing mereka untuk mengetahui hanya kebenaran, tanpa kesalahan dalam komunikasi.
D. Revilation (Pewahyuan alkitab)
Berkenaan dengan Alkitab maka, pewahyuan (revelation) berarti penyingkapan kebenaran oleh Allah kepada para nabi PL dan rasul PB, untuk ditulis menjadi kitab-kitab seperti yang sudah terdapat dalam Alkitab. kata wahyu (reveal) muncul sebanyak 51 kali, dalam PL 22 kali dan PB 29 kali. Kata ini dalam bahasa Ibraninya adalah galah yang arti dasarnya adalah ketelanjangan (nakedness). Jika dikenakan pada pewahyuan maka berarti menghilangkan rintangan untuk mengamati atau membuka penutup suatu obyek untuk mengamatinya. Kata yang mirip dengan istilah Ibrani di atas adalah apokalupto dalam bahasa Yunani yang berarti penyingkapan.
Akibat dari pewahyuan adalah menjadikan para nabi dan para rasul lebih bijaksana sehingga mereka mengerti firman, kehendak, serta rencana Allah. Penulis Alkitab yang bukan nabi maupun rasul, seperti penulis kitab Ester (yang diperkirakan ditulis Mordekhai) atau Lukas penulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, tidak mendapat wahyu dari Tuhan, tetapi mendapatkan ilham sehingga mereka menulis..
Beda pewahyuan dan pengilhaman adalah seperti yang dijelaskan oleh Charles Hodge berikut ini. Wahyu dan ilham pertama-tama berbeda dalam obyeknya. Obyek wahyu adalah pengkomunikasian pengetahuan, sedangkan obyek dari ilham adalah untuk mengamankan. pengajaran. Konsekuensi dari perbedaan ini adalah timbulnya perbedaan yang kedua, yaitu dalam hal akibatnya. Akibat dari wahyu adalah menyebabkan penerima wahyu menjadi lebih bijaksana, sedangkan akibat dari ilham adalah menyebabkan penerima wahyu tadi dijaga dari kesalahan di dalam pengajarannya.
E. Canonitas (Kanonisasi Alkitab)
Kata kanon, seperti dikutip oleh F.F. Bruce dari R.P.C. Hanson, memiliki arti yang sederhana yaitu daftar buku yang dimuat di dalam Alkitab, atau di dalam konteks Kristen boleh didefinisikan kata itu sebagai daftar dari tulisan-tulisan gereja sebagai sebuah dokuman dari inspirasi ilahi.
Kata kanon berasal dari kata Yunani kanon yang berarti batang, tangkai atau tongkat, secara khusus tongkat yang lurus sebagai sebuah pengukur. Dari penggunaan ini datang arti lain yang umumnya terkandung di dalam bahasa Inggris ‘rule’ atau ‘standard.’
Siapakah yang berhak mengumpulkan dan menentukan kitab-kitab dalam Alkitab seperti yang kita ketahui sekarang yakni 66 kitab, dan atas otoritas siapakah mereka melakukan hal itu? Ada satu prinsip yang sangat penting yang ditulis Paul Little di dalam bukunya Know What You Believe, yaitu bahwa di dalam proses kanonisasi harus disadari bahwa sebuah kitab adalah kitab yang diinspirasikan dengan menggolongkan kitab itu ke dalam kanon. Penggolongan ke dalam kanon hanyalah pengenalan otoritas sebuah kitab yang sudah dimilikinya.
Jika sebuah kertas berwarna putih, maka warna putih dari kertas tersebutlah yang membuat kita mengatakan bahwa kertas itu putih dan bukan karena kita mengatakan kertas itu berwarna putih sehingga menjadi putih. Demikianlah dengan proses kanonisasi. Bukan bapa-bapa gereja yang menentukan sebuah kitab masuk ke dalam kanon atau tidak. Mereka sama sekali tidak memiliki otoritas untuk itu. Tetapi kitab-kitab tersebutlah yang menyatakan diri mereka firman Allah. Bapa-bapa gereja hanyalah mengumpulkan mana kitab-kitab yang berotoritas ilahi dan menyisihkan mana yang tidak.
Alkitab Perjanjian Lama tidak terlalu bermasalah, karena seluruh kitab-kitab Perjanjian Lama sudah diterima dan diakui oleh orang-orang Yahudi, sejumlah yang kita kenal sekarang. Bahkan sekitar tahun 70 sebelum masehi, sudah diterjemahkan oleh sekitar 70 ahli Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani, di kota Aleksandria, Mesir. Terjemahan tersebut disebut sebagai septuaginta (LXX). Menurut W. Gary Crampton, kanon Perjanjian Lama sudah lengkap pada tahun 400 sebelum masehi, tetapi menurut Paul Little, kanon perjanjian Lama tidak diketahui dengan pasti kapan sudah lengkap. Mengenai kanon Perjanjian Baru, H. Berkhof mengatakan bahwa kanon tersebut sudah ditetapkan kira-kira tahun 200 dan secara definitif tahun 380. Sedangkan menurut W. Gary Crampton, Kanonisasi terakhir terjadi pada tahun 397 masehi di konsili Kartago.
Crampton juga menyatakan bahwa Perjanjian Lama diterima oleh bapak-bapak gereja pada saat kanonisasi karena, kepenulisannya bersifat kenabian, penerimaan oleh agama dan orang Yahudi secara Historis dan konsistensi doktrin dalam keseluruhan Perjanjian Lama. Kemudian Perjanjian Baru juga sama yaitu, bersifat kerasulan, penerimaan oleh gereja mula-mula, dan konsistensi doktrin serta keselarasan Alkitab.Dalam bukunya Little, seperti yang dikutipnya dari J.N. Birdsell, Canon of The New Testament, kanon Perjanjian Baru dikonfirmasikan pada saat konsili di Kartago tahun 397 dengan mengunakan tiga kriteria yaitu:
1. Apakah kitab itu bersifat kerasulan dari awalnya?
2. Apakah kitab itu digunakan dan dikenali oleh gereja-gereja?
3. Apakah kitab tersebut mengajarkan doktrin yang benar?
Yang pertama, apakah bersifat kerasulan atau tidak? Hal ini berarti bahwa kitab-kitab tersebut harus ditulis oleh rasul-rasul Yesus Kristus sendiri yaitu keduabelas rasul dan rasul Paulus (Yudas tentu tidak termasuk ke dalam golongan ini, jabatannya sudah diganti oleh Matias, Kis. 1:26), yang juga mendapat panggilan langsung dari Tuhan di dalam perjalanannya ke Damsyik, Kis. 9:3-6. Bandingkan juga dengan I&II Kor. 1:1;Gal. 1:1; Ef.1:1; I&II Tim.1:1; Tit.1:1. Tetapi ada juga kitab-kitab yang tidak ditulis oleh rasul-rasul sendiri, seperti kitab Injil Markus yang ditulis Markus, Injil Lukas dan Kisah Para rasul yang ditulis oleh Lukas serta surat Yakobus dan Yudas yang ditulis oleh Yakobus dan Yudas saudara-saudara Tuhan Yesus. Mereka semua bukanlah rasul tetapi mereka menulis di bawah pengaruh rasul-rasul.
Markus pernah berada di bawah pengaruh Paulus karena pernah menyertai Paulus di dalam perjalanannya, yang menjadi penyebab perselisihan antara Paulus dan Barnabas. Kis. 15:37-40. Secara khusus ketika Markus menulis Injil Markus, dia berada di bawah pengaruh dan bimbingan rasul Petrus. Sedangkan Lukas adalah rekan Paulus. Tidak diragukan lagi bahwa dia berada di bawah pengaruh dan bimbingan Paulus. Yakobus dan Yudas yang pada awalnya tidak percaya kepada Yesus, Yoh. 7:3-5, pada akhirnya mereka menjadi percaya, dan sejak mula mereka berada bersama-sama rasul-rasul di Yerusalem, Kis. 1:14.
Mengenai kitab Ibrani, yang penulisnya tidak mencantumkan nama, jika Paulus yang menulisnya, tidak ada masalah. Tetapi Jika Apolos, seperti pendapat sebagian ahli PB, maka kita dapat berargumen bahwa dia berada di bawah pengaruh Paulus. Hal ini bisa kita lihat dari dua hal yaitu:
1. Paulus menyebut Apolos di dalam suratnya, yang secara tidak langsung meneguhkan pelayanan Apolos dan kedekatan Paulus dengannya. Pertama, di dalam I Kor. 3:4-6. Walaupun tulisan Paulus ini untuk mengecam dan menyelesaikan perselisihan jemaat Korintus, tetapi Paulus mengatakan bahwa dirinya yang menanam dan Apolos yang menyiram. Pernyataan ini langsung meneguhkan kredibilitas pelayanan Apolos. Kedua, I Kor. 16:12. Di dalam ayat ini Paulus menulis bahwa ia mendesak Apolos untuk datang ke Korintus. Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki hubungan yang erat sekali di dalam pelayanan.
2. Konsep teologi Apolos pernah diluruskan oleh Priskila dan Akwila. Kita tahu bahwa Priskila dan Akwila adalah rekan pelayanan Paulus yang sangat dekat. Mereka dan Paulus, sama-sama pembuat tenda, Kis. 18:2-3. Doktrin atau teologi Priskila dan Akwila pasti dibentuk oleh pengajaran Paulus. Jadi, kedekatan antara Apolos dengan Priskila dan Akwila, menjadikan Apolos secara tidak langsung berada di bawah pengaruh bahkan bimbingan Paulus. Sehingga seandainya jika bukan Paulus yang menulis kitab Ibrani tetapi Apolos, maka tetap tidak menjadi masalah. Ke 27 kitab PB, lulus di dalam ujian yang pertama ini.
Yang selanjutnya adalah apakah kitab-kitab tersebut dikenali dan digunakan oleh gereja-gereja saat itu? Pengakuan adalah penting sekali. Jika sebuah kitab hanya diakui dan digunakan oleh sebuah jemaat saja, maka otoritas dari kitab tersebut patut dipertanyakan. Jika kitab itu sungguh-sungguh firman Allah, maka tentu dikenal dan digunakan secara luas oleh gereja-gereja saat itu. 27 kitab PB adalah kitab-kitab yang sudah lulus ujian ini.Yang Ketiga, apakah kitab-kitab itu, mengajarkan doktrin yang benar? Banyak kitab-kitab apokrifa yang ditulis pada abad kedua, yang masih mirip dengan kanon, tetapi di dalamnya ada muatan-muatan ajaran gnostik dan panteisme. Itu sebabnya injil-injil palsu seperti injil Thomas, injil Yudas, injil Maria Magdalena dan lain-lain, bahkan yang muncul paling belakangan yaitu injil Barnabas, kita tolak. Tetapi, ke 27 kitab PB yang menjadi kanon, sangat sepakat di dalam doktrin yang disuarakannya. Itu sebabnya, kitab-kitab itu lulus juga pada ujian ini.
F. Iluminasi
Kata "iluminasi" berasal dari bahasa Yunani "photizo", artinya "menerangi, memberi penerangan batin" (Yoh 1:9; Luk 11:36; 1 Kor 4:5; Efe 1:18). Berdasarkan pengertian etimologis tersebut kita bisa mengambil definisi dari Iluminasi adalah sebagai berikut: Pekerjaan Roh Kudus yang membantu membukakan pikiran dan hati orang percaya supaya mereka dapat mengerti (menafsirkan) Alkitab dengan benar dan mengaplikasikan kebenaran itu dengan sunguh-sungguh dalam kehidupan mereka (1 Kor 2:14).
Mengapa untuk mengerti Alkitab kita membutuhkan bantuan Roh Kudus? “Karena pikiran dan hati manusia ada dalam kegelapan (1 Kor 2:14; Efe 4:17, 18). Roh Kudus berfungsi sebagai penerang sehingga pikiran dan hati manusia dapat melihat kebenaran dengan benar”.
Karena sifat hati manusia yang bebal (Yes 6:9-10; Kis 28:26). Walaupun Alkitab menyatakan kebenaran, manusia tidak mau melihat kebenaran karena manusia hanya tertarik kepada diri sendiri dan bukan kepada hal-hal yang Allah kehendaki. Karena melawan pekerjaan Setan (2 Kor 4:3-4). Setan tidak ingin manusia mengetahui kebenaran dan manusia tidak mungkin mampu melawan setan yang penuh tipu muslihat, kecuali Roh Kudus yang menolong.
Karena manusia sangat dipengaruhi oleh kuasa kedagingan (1 Kor 3:1-2; Ibr 5:12-14). Apa yang disukai Allah, yaitu kebenaran, tidak disukai manusia. Tanpa campur tangan Roh Kudus manusia tidak mungkin mau mengikuti kebenaran, karena ia telah dikuasai oleh roh kedagingan yang mencintai diri sendiri.
Hubungan Inspirasi dan Iluminasi
Dalam Inspirasi, Roh Kudus memberikan ilham kepada para penulis Alkitab, sehingga mereka dapat menuliskan Penyataan Tuhan dengan benar dan tepat sesuai dengan yang Allah kehendaki. Dalam Iluminasi, Roh Kudus memberikan penerangan kepada para pembaca Alkitab agar mereka dapat mengerti dan menerima apa yang dimaksudkan oleh Penyataan Tuhan yang tertulis itu dengan benar dan tepat.
Hal yang membedakan antara Inspirasi dan Iluminasi adalah bahwa pekerjaan Roh Kudus dalam penginspirasian Alkitab sudah selesai. Tidak akan ada lagi inspirasi (wahyu) baru di luar Alkitab, karena Alkitab yang kita miliki sekarang sudah lengkap dan sempurna. Tetapi pekerjaan Roh Kudus dalam memberikan iluminasi-iluminasi baru kepada orang-orang percaya masih berlaku hingga saat ini. Roh Kudus memberikan iluminasi tetapi tidak untuk menambah dari apa yang sudah ada dalam Alkitab. Dan Roh Kudus bekerja dengan Firman dan melalui Firman, tetapi tidak melawan Firman. Itu sebabnya, Alkitab harus menjadi tolok ukur untuk kita mengkonfirmasikan segala sesuatu yang kita percaya, pelajari, dan yang kita lakukan (Maz 119:105).
Jadi, dengan kata lain, pekerjaan Roh Kudus dalam memberikan inspirasi kepada para penulis Alkitab sudah selesai sejak dari jaman rasul-rasul, tetapi Roh Kudus terus bekerja hingga saat ini untuk memelihara Alkitab yang diinspirasikan itu, dan menolong/membimbing orang percaya untuk mengerti maksud isi Alkitab tersebut ketika mereka mempelajarinya.
Peranan Roh Kudus dalam Iluminasi
Roh Kudus memiliki tugas untuk menerangi (mengiluminasi) pikiran dan hati manusia, sehingga manusia yang sedang mempelajari Alkitab itu dapat mengertinya dengan benar sesuai dengan apa yang dimaksud oleh Allah. Roh Kudus tahu persis isi hati dan pikiran Allah, karena Dialah yang ada di belakang proses penulisan Alkitab. Jika tujuan Allah memberikan Alkitab adalah supaya Ia dikenal oleh manusia, maka tujuan akhir iluminasi adalah supaya manusia mengenal Allah dengan benar melalui Penyataan-Nya (Alkitab), sehingga manusia mengerti akan kehendak Tuhan dan melakukan apa yang berkenan kepada Allah. Dengan demikian hasil akhir yang diharapkan adalah hanya Allah saja yang ditinggikan dan dimuliakan.
Sebagai kesimpulan, Roh Kudus mempunyai peran bukan hanya sebagai Penulis Alkitab, tetapi juga sebagai Penerang (iluminasi) dan Penafsir Alkitab, bahkan sekaligus Pengajar Alkitab. Karena Roh Kudus lah yang memimpin maka dijamin bahwa apa yang ditulis, dinyatakan dan dipelajari manusia tidak akan salah, karena semuanya dikerjakan oleh Oknum Ketiga dari Allah Tritunggal yang sama, yaitu Roh Kudus ( Efe 3:4, 5, 1 Kor 2:12, 13, Yoh 14:26, Yoh 16:13-15, 2 Pet 1:21 ).
G. Keperluan Mutlak (Necessity)
Defenisi keperlan mutlak adalah Alkitab diperlukan secara mutlak untuk mengenal kristus, agar kita bisa diselamatkan. Karena hanya alkitablah yang memberitakan kebenaran “kabar baik” tentang kristus (Rom 1:16). Penekanan disini bukanlah keperluan untuk mengenal Allah dalam arti keberadaan dan sifat-sifat umum Allah, dan hal-hal tentang moralitas. Karena Alkitab adalah satu-satunya sumber untuk mengenal Allah; Injil yang mempunyai kuasa yang menyelamatkan maka manusia harus membaca Alkitab atau mendengar dari orang lain Firman dalam Alkitab.
Kesimpulan
Akhirnya bisa disimpulkan di sini bahwa Alkitab berasal dari Allah saja dan menyatakan kepada manusia siapa itu Allah. Karena Alkitab berasal dari pada Allah maka bisa dikatakan Alkitab merupakan firman Allah yang berbeda dengan semua buku-buku yang ada di dunia ini. Selain itu Alkitab juga memiliki sejumlah ciri-ciri yang menegaskan akan kewibawaannya sebagai firman Allah.
Allah sudah melakukan bagian-Nya, yaitu memberikan Alkitab dan menyatakan diri-Nya di situ. Sekarang bagian kita, yaitu menerima Alkitab itu dengan rendah hati sebagai firman Allah. Lalu membaca dan merenungkannya sehingga dari situ kita boleh semakin mengenal Allah dan dengan semakin mengenal-Nya tentu kita akan semakin mengasihi-Nya.
Dari pemaparan tentang sifat-sifat Alkitab, kita dapat memastikan bahwa Alkitab merupakan Fiman Allah yang memiliki otoritas. Alkitab memang sebuah Karya Ilmiah namun tidak sama dengan Karya Ilmiah lainnya karena Alkitab di inspirasikan atau di wahyukan oleh Allah kepada manusia dan Roh kudus membimbing/menuntun orang-orang yang dipilih Allah untuk menuliskan Alkitab. Lkitab masih relevan sampai kapanpun sebab Alkitab adalah perkataan Allah yang kekal yang tidak berkesudahan sampai akhir zaman/ sampai kedatangan-Nya yang kedua kali.
Puji dan syukur kepada Tuhan atas berkat dan karunianya yang melimpah, hingga pada saat ini Tugas ini dapat selesai tepat pada waktunya. Sebelumnya penulis menyadari bahwasannya banyak kekurangan dalam Tugas kami ini karena keterbatasan sumber dan keterbatasan pengetahuan dari penyaji/penulis.
Demikian kiranya, semoga karya tulis ini dapat bermanfaat dan dapat memberikan ilmu yang cukup untuk mengetahui topik mata kuliah yang diberikan. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pada masa ini banyak orang yang meragukan Alkitab sebagai Firman Tuhan. Para ahli berpendapat bahwa Alkitab hanyalah sebuah karya sastra yang sama dengan buku-buku sejarah lainnya. Ini menyebabkan banyaknya polemik dan perdebatan tentang hal itu. Namun secara iman Kristen mengakui bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang hidup yang berisi tentang pegangan hidup orang Kristiani.
Di zaman modern sekarang ini pasti banyak yang bertanya tentang Alkitab, bahkan banyak yang mengatakan bahwa Alkitab yang ditulis sekarang telah diperbaharui dari Alkitab yang sebenarnya atau palsu. Ini merupakan pandangan yang telah di konsumsi banyak orang termasuk orang-orang non Kristen, dan ini bisa berdampak buruk jika tidak bisa memberikan jawaban dengan baik dan tepat.
Disinilah saya akan memaparkan pandangan-pandangan tentang alkitab dan proses terjadinya Alkitab sehingga kita dapat memastikan bahwa Alkitab itu Firman Allah yang eksis sampai kesudahan zaman.
BAB 2
1. Apakah Itu Alkitab ?
Alkitab berasal dari bahasa Yunani, “Biblos” yang artinya buku atau kitab. “Ta Biblia”, “Biblion” adalah bentuk jamak yang artinnya buku-buku atau kitab-kitab dari kata tersebutlah muncul kata “Bible” dalam bahasa inggris, lalu diterjemahkan kedalam bahasa indonesia menjadi Alkitab. Alkitab adalah kumpulan kitab yang terdiri dari 66 kitab yang dibentuk dan disatukan melalui proses kanonisasi yang artinya adalah “standar” atau “ukuran”. Alkitab adalah kumpulan kitab yang terdiri dari 66 kitab yang diproses melalui apa disebut kanonisasi. Kanonisasi dari kata "Kanon" artinya "standar" atau "norma" atau "peraturan”. Jadi Alkitab adalah tulisan yang memenuhi standar.
Alkitab adalah firman Allah, karena firman Allah berkuasa, ia tentunya menyampaikan sesuatu yang mempunyai arti. Firman Allah bukanlah kuasa yang berdiri sendiri tanpa mempunyai arti. Firman itu berkata-kata, dan memberikan pesan kepada umat manusia, oleh sebab itu sudah seharusnya manusia mengenal alkitab agar dapat mengenal siapa itu Allah, mendengar, mentaati perintah dan petunjuknya. Hal tersebut menunjukkan bahwa Alkitab adalah firman Allah yang berkuasa dan sekaligus berarti.. Alkitab tidak boleh dianggap sebagai dokumen untuk studi akademis saja karena ia dapat saja mepunyai arti bagi orang yang mempelajarinya, tetapi firman itu sendiri tidak akan memberikan daya kuasa yang efekif.
Alkitab bukanlah hanya sebuah catatan atau karya tulis yang dibuat dan direkayasa oleh nabi dan rasul, melainkan adanya Alkitab itu karena Allah berinisiati mengilhamkan kepada para penulisnya firman tersebut, sehingga mereka menghasilkan tulisan tanpa salah dan secara akurat menyampaikan firman dan kehendak Allah.
Alkitab adalah satu-satunya sumber dari sgala pengetahuan manusia tentang Allah. Allah tetap berinisiatif menyatakan dirinya secara khusus melalui alkitab sehingga alkitab menjadi satu-satunya patokan yang berotoritas bagi orang percaya. Jadi sebagai manusia biasa, mungkin banyak dari kita yang bertanya apakah Alkitab itu memang firman dari Allah? Untuk menjawabnya mari kita lihat judul berikutnya.
Banyak yang orang atau golongan yang tidak menerima Alkitab sebagai firman Allah. Ada yang mengatakan bahwa Alkitab bukan firman Allah dan ada pula yang lebih halus sikapnya dengan mengatakan bahwa Alkitab berisi firman Allah. Pandangan yang pertama jelas bertentang dengan iman Kristen sedangkan yang kedua barangkali masih mengakui bahwa dalam Alkitab ada bagian-bagian tertentu yang merupakan firman Allah tetapi selebihnya bukan firman Allah. Jadi ini pun tidak dapat diterima.Sebenarnya dari asal-usulnya saja, kita bisa melihat bahwa Alkitab itu adalah firman Allah. Itu tak terbantahkan. Namun di sini kita akan mempelajari sedikit bagaimana Alkitab bisa dikatakan sebagai firman Allah. Alkitab disebut firman Allah, pertama karena Allah sendiri yang mengilhami seluruh penulisan isi Alkitab (2 Tim 3:16), tidak ada satu bagian pun dari Alkitab yang tidak diilhamkan Allah.
Lalu yang kedua, Alkitab disebut firman Allah karena di dalam Alkitab sendiri tertulis sekian banyak kalimat yang menegaskan bahwa Alkitab adalah firman Allah, misalnya berfirmanlah Allah (Kej. 1:3), firman Tuhan datang kepadaku, bunyinya (Yer. 1:4), ucapan ilahi dalam penglihatan nabi Habakuk (Hab. 1:1), Inilah wahyu Yesus Kristus (Wah. 1:1) dan masih banyak lagi yang lain. Kalimat-kalimat ini sudah lebih dari cukup untuk memberikan kesaksian bahwa Alkitab sebagai firman Allah.
Dan yang ketiga, kesaksian tokoh-tokoh di dalam Alkitab ikut meneguhkan kebenaran Alkitab sebagai firman Allah. Para penulis Perjanjian Baru seringkali mengutip ayat-ayat dari Perjanjian Lama dengan menganggapnya sebagai firman Allah contohnya Mat. 4:14-16 dan Yoh. 19:24. Dan yang keempat pengakuan Tuhan Yesus sendiri membenarkan bahwa Alkitab sebagai firman Allah. (Mrk. 12:10; Mrk. 7:6-7).
Sifat-sifat Alkitab adalah sebagai berikut :
Alkitab tidak mungkin keliru. Alkitab ditulis bukan atas kehendak manusia melainkan oleh dorongan Roh Kudus. Terjemahan atau cetakan bisa saja salah tetapi tulisan atau naskah asli tidak mungkin keliru.
Alkitab mutlak dibutuhkan manusia. Roma 10:17 mengatakan “iman timbul dari mendengar akan firman Kristus”. Tanpa Alkitab manusia tidak dapat mengetahui pernyataan-pernyataan Allah yang memanggil manusia kepada pertobatan melalui Yesus Kristus.
Alkitab berkuasa dan berwibawa. Alkitab sebagai firman Allah mempunyi kewibawaan / otoritas tertinggi dalam kehidupan manusia. Karena firman Allah Ya dan Amin. Ia tidak perlu dibela oleh siapapun karena ia mampu membela diriNya sendiri.
Alkitab adalah cukup. Alkitab tidak perlu didukung dengan buku-buku ataupun pernyataan-pernyataan lain sehingga tidak seorangpun boleh menambah ataupun mengurangi isinya (Wahyu 22:18-19)
Alkitab adalah terang. Kalau Akitab sulit dimengerti, maka tidak berarti bahwa Alkitab kurang terang.yang menjadikan ia kurang terang adalah akal budi kita sendiri yang gelap.
Alkitab mencapai maksud dan tujuannya. Adapun maksud dan tujuan Alkitab adalah memanggil dan menghantar manusia kepada keselamatan oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.
Alkitab merupakan satu kesatuan. Sekalipun ditulis oleh kurang lebih 40 orang, Alkitab tidak saling bertentangan isinya dengan yang lain. Karena semua digerakkan oleh Roh Kudus.
2. Apakah Alkitab itu benar-benar merupakan firman Allah ?
sebagai firman Allah yang benar sudah seharusnya Alkitab tidak mempunyai kesalahan, memiliki kewibawaan, asli dan bersumber dari Tuhan, dan ditulis memang berdasarkan inspirasi yang diberikan oleh Tuhan. Jadi apakah Alkitab memang benar firman dari Allah ? berikut adalah uraiannya sesuai dengan tugas kelompok yang diberikan akhir-akhir ini.
A. Innerency (firman Tuhan tidak memiliki kesalahan)
Dari penjabaran diatas tersebut mengantar kita untuk bertanya apakah Alkitab kita tidak memiliki kesalahan?. Kita telah melihat bahwa keadaan Alkitab bukan karena hasil karya manusia semata tetapi keseluruhannya adalah karya Roh Kudus melalui para penulis. Hal ini berarti bahwa otoritas tertinggi adalah Allah. Jika Allah yang bekerja dalam pembuatan Alkitab, Alkitab berkuasa dan tidak mengandung kesalahan sedikitpun.
Kata ineransi (inerrant) yang dalam arti sederhana tidak ada kesalahan. Namun dalam istilah teologis, tidak sesederhana itu. Kata ineransi dapat diartikan bahwa Alkitab memiliki kualitas bebas dari salah, kemungkinan untuk kesalahan, dan tidak dapat salah baik secara akademis, historis maupun spiritual. Untuk lebih jelas dapat dipahami melalui sebuah silogisme sederhana yang menacu pada topik sebelumnya bahwa Alkitab berasal dari Allah.
Pernyataan 1: “Allah adalah benar.”
Pernyataan 2: “Alkitab berasal (dinafaskan/diilhamkan) dari Allah.”
Kesimpulan : Maka Alkitab adalah benar [karena diinspirasikan oleh Allah yang benar].
Ineransi selalu merujuk kepada manuskrip yang asli yang berarti bahwa pada waktu fakta diketahui, Alkitab dalam tulisan aslinya, apabila diinterpretasikan dengan benar akan terlihat sepenuhnya benar dalam setiap pengajarannya yang berhubungan dengan segala aspek yang termaktub dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Dari silogisme di atas, maka segala kritik yang meragukan kewibawaan Alkitab sesungguh sekaligus menjadi keraguan secara langsung terhadap natur Allah. Hal ini bukan pembelaan skeptis tetapi sebuah koherensi yang runtut dalam keseluruhan Alkitab. Dengan demikian, ineransi Alkitab dapat dimengerti bahwa Alkitab benar dalam keselruhan dan dalam semua bagian, benar secara rohani, historis dan akademis, secara moral, maksud dan peneguhan tidak bisa salah. Allah berbicara kepada manusia dalam bahasa Alkitab (bisa disebut bahasa manusia) yang sepenuhnya adalah penyataan Allah sehingga tidak dapat dipertentangkan (secara umum pertentangan dalam iman dan penalaran).
Ketidak-kakuan dalam ineransi Alkitab dapat dilihat dalam beberapa hal bahwa ineransi mengijinkan adanya keragaman dalam gaya bahasa, keragaman rincian dalam menjelaskan peristiwa yang sama, untuk tidak menggunakan tata bahasa yang standar, ayat-ayat problematik. Ineransi juga tidak menuntut laoran kata demi kata dari suatu peristiwa dan juga tidak menuntut catatan itu mengajarkan kesalahan atau kontradiksi. Jadi, otoritas Alkitab tidak kurang dari otoritas Yesus Kristus sendiri karena Ia sendiri yang telah meneguhkan pengilhaman PL dan menyajikan dan menjanjikan PB. Kesaksian Yesus dan para rasul bersifat inerrant pada apa yang diajarkan. Alkitab yang ada saat ini adalah Firman Tuhan. Ineransi menjadi doktrin yang penting apabila dimengerti dengan benar. Alkitab berbicara secara akurat sesuai dengan kebenaran dalam semua penyataannya; baik itu hal teologis, historis, geografis dan geologis.
Meskipun demikian bukan berarti menutup kemungkinan adanya terhadap teori ineransi alkitab ini. Mengenai kebenarannya dapat disimpulkan bahwa kesalahan-kesalahan dapat mengajarkan kebenaran. Hal ini mungkin tidak beralasan karena hal-hal kroologis terlalu tercampur adukkan dengan hal-hal teologis. Oleh sebab itu, muncul pernyataan bahwa jika Alkitab tidak dapat dipercaya dalam hal kronologis historis, Alkitab tetap dapat dipercaya dalam hal kebenaran dan berita keselamatannya.
Alkitab telah terbukti secara historis tanpa salah selama lebih dari 3500 tahun sejak pembuatannya hingga hari ini, tidak ada satu keraguanpun yang ditujukan kepada supremasi Alkitab yang bertahan selama itu. Tidak ada karya manusia yang bertahan lebih dari dua abad, semuanya mengalami permaharuan. Itu berarti bahwa Alkitab bukan karya manusia tetapi Allah, yang kekal. Akhirnya, ‘Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2Ti 3:16)”. Jangan mempertanyakan otoritas Alkitab karena dengan demikian kita mempertanyakan keberadaan Allah.
B. Athority (kewibawaan Alkitab)
Defenisi seluruh alkitab adalah firman Allah; tidak mempercayai. Atau mentaati Alkitab berarti tidak percaya atau tidak taat kepada Allah. Dengan kata lain Alkitab memegang otoritas tertinggi dan terakhir untuk iman dan kehidupan orang percaya, karena Alkitab adalah firman yang datang dari Allah sendiri.
Bukti kewibawaan Alkitab dapat kita buktikan dengan banyak pembuktian contohnya yaitu, Banyaknya penggunaan kalimat "Demikianlah firman Tuhan...."yang identik dengan kalimat "Demikian kata Raja...". Hal ini menunjukkan bahwa alkitab berasal dari perintah atau mandat Allah, pemegang otoritas tertinggi, yang tidak dapat diubah-ubah dan harus dilaksanakan.(Mazmur 119 : 142, Mazmur 19:8, 2 Petrus 1 : 21) "Sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah."
Alkitab bukan sekedar buku biasa yang berisi pengalaman religi masa lalu seperti yang diyakini oleh sebagian orang tetapi merupakan wahyu/penyataan Allah (divine revelation). Allah menyatakan diri-Nya melalui Alkitab.
Alkitab berisikan kesaksian menyeluruh mengenai Allah yang menyatakan diri-Nya, kehendak-Nya serta karya penciptaan, pemeliharaan, penyelamatan, dan penggenapan-Nya kepada manusia dan dunia. Kesaksian Alkitab mengenai Allah ini cukup dan menjadi ukuran (kanon) bagi iman kita dan untuk menggumuli kehidupan iman kita dalam kesetiaan kepada-Nya. Kesaksian menyeluruh ini dipahami dan diajakan secara utuh (2009: 345)
Alkitab disebut pernyataan/wahyu Allah karena Roh Kudus berperan dalam mengilhami para penulis Alkitab. Allah menyatakan diri-Nya dalam Alkitab.
Alkitab ditulis dan disusun dengan kuasa dan bimbingan Roh Kudus, yang menyertai dan mengilhami para penulis dan penyusunnya. . . Dari sejarah tentang Alkitab kita mendapatkan informasi betapa rumit proses penulisan, pengumpulan, pelestarian kitab-kitab dalam Alkitab kita. Tidak dapat dibayangkan proses ini sebagai hasil dari perencanaan manusia saja. Karena itu kita percaya bahwa Roh Kudus berperan dalam hal ini (2009: 346, 347).
Bagaimana cara kia untu memahami Alkitab ?
Alkitab harus dipahami sebagai satu kesatuan, terutama ketika kita berusaha mendalami bagian-bagiannya. Kita menyadari adanya bahaya pemahaman yang menyimpang dari maksud Alkitab sebenarnya bila bagian-bagian Alkitab dipahami seolah-olah berdiri sendiri, atau dilepaskan satu dari lainnya. Dengan begitu kita tidak boleh mengabaikan keutuhan Alkitab yang tersedia bagi kita dan mengabaikan Pusat yang menyatukannya yaitu Kristus (2009: 346).
Pemahaman yang benar mengenai isi Alkitab serta penghayatannya terjadi dengan bimbingan Roh Kudus (Yoh 16:15, II Pet. 1:20-21). Semua perlengkapan yang teruji untuk membantu kita memahami Alkitab patut diabdikan bagi pemahaman yang benar. Di dalamnya kita percaya Roh Kudus bekerja, bukan saja secara ajaib tetapi juga secara wajar (2009: 348).
C. Inspiration (inspirasi Alkitab)
Inspirasi dapat didefenisikan sebagai pimpinan rohkudus pada para penulis, sehingga meskipun penulisan dilakukan dengan penulisan gaya dan kepribadian mereka, hasilnya adalah firmn Allah yang tertulis yang berotoritas, patut dipercaya dan bebas dari salah dalam autograf yang asli. Beberapa defenisi dari para teolog injili yang ternama adalah sebagai berikut.a
Benjamin B. Warfield: “ Oleh karena itu, Inspirasi biasnya didefenisikan sbagai suatu pengaruh supranatural dari Roh Allah yang menggerakkan par a penulis kitab suci, ssehingga tulisan mereka diyatakan memiliki kepatutan diipercya yang bersifat ilahi.
Edward J. Young inspirasi adalah pimpinan Allah roh kudus atas para penulis kitab suci, akibatnya, kitab suci itu memilki otoritas ilahi dan patut dipercaya. Dan karena memilki otorita ilahi serta patut dipercaya seperti itu, maka ia bebas dari salah.
Charles C. Ryrie : “ inspirasi adalah pimpinan Aallah atas penulis manusia dimana melalui penggunaaan kepribadian mereka masing-masing, mereka menyususn dan mencatat tanpa salah wahyu Allah pada manusia dalam kata-kata dari autograf yang asli
Unsur penting dalam defenisi Inspirasi :
1. Unsur ilahi Allah rohkudus memimpin para penulis untuk menjamin keakuratan dari tulisan.
2. Unsur manusia. Para penulis manusia menulis dengan cara dan kepribadian mereka masing-masing.
3. Hasil dari penulisan ilahi dan manusia ini adalah catatan dari kebenaran Allah yang tnpa salah.
4. Inspirasi meliputi seleksi kata-kata oleh par penulis.
5. Inspirasi berhubungan dengan manuskrip.
Alkitab itu diberikan melalui ilham Allah sebagaimana Rohkudus bekerja di dalam orang-orang yang dipilih, menyatakan kepada mereka pikiran Allah dan memampukan mereka untuk menggunakan kata-kata yang tepat untuk mengkomunikasikan kebenaran Allah tanpa kesalahan. Ilham (inspirasi) berasal dari kata latin yang artinya “bernafas dalam” atau “ke dalam” (in dan spiro) dan dari kata Yunani yang artinya “nafas Allah” (Theopneustos). Allah menaruh Rohkudus ke dalam para penulis Alkitab dan melalui Dia, membimbing mereka di dalam menuliskan Alkitab, maka “inspirasi” dapat didefinisikan sebagai proses melalui mana Allah menghembuskan Roh-Nya ke dalam manusia untuk memampukan mereka untuk menerima dan mengkomunikasikan kebenaran Ilahi tanpa kesalahan. Alkitab adalah Allah berbicara!
Para penulis Alkitab menulis, baik tentang fakta-fakta yang mereka ketahui maupun fakta-fakta yang mereka tidak ketahui tanpa ilham. Fakta-fakta yang mereka ketahui berasal dari pengamatan pribadi, dokumen-dokumen yang ada, atau tradisi mulut. Kebanyakan dari apa yang mereka tulis mereka ketahui untuk pertama kali melalui inspirasi dari Allah, baik mereka menulis fakta-fakta yang mereka ketahui atau wahyu, ilham Allah membimbing mereka untuk mengetahui hanya kebenaran, tanpa kesalahan dalam komunikasi.
D. Revilation (Pewahyuan alkitab)
Berkenaan dengan Alkitab maka, pewahyuan (revelation) berarti penyingkapan kebenaran oleh Allah kepada para nabi PL dan rasul PB, untuk ditulis menjadi kitab-kitab seperti yang sudah terdapat dalam Alkitab. kata wahyu (reveal) muncul sebanyak 51 kali, dalam PL 22 kali dan PB 29 kali. Kata ini dalam bahasa Ibraninya adalah galah yang arti dasarnya adalah ketelanjangan (nakedness). Jika dikenakan pada pewahyuan maka berarti menghilangkan rintangan untuk mengamati atau membuka penutup suatu obyek untuk mengamatinya. Kata yang mirip dengan istilah Ibrani di atas adalah apokalupto dalam bahasa Yunani yang berarti penyingkapan.
Akibat dari pewahyuan adalah menjadikan para nabi dan para rasul lebih bijaksana sehingga mereka mengerti firman, kehendak, serta rencana Allah. Penulis Alkitab yang bukan nabi maupun rasul, seperti penulis kitab Ester (yang diperkirakan ditulis Mordekhai) atau Lukas penulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, tidak mendapat wahyu dari Tuhan, tetapi mendapatkan ilham sehingga mereka menulis..
Beda pewahyuan dan pengilhaman adalah seperti yang dijelaskan oleh Charles Hodge berikut ini. Wahyu dan ilham pertama-tama berbeda dalam obyeknya. Obyek wahyu adalah pengkomunikasian pengetahuan, sedangkan obyek dari ilham adalah untuk mengamankan. pengajaran. Konsekuensi dari perbedaan ini adalah timbulnya perbedaan yang kedua, yaitu dalam hal akibatnya. Akibat dari wahyu adalah menyebabkan penerima wahyu menjadi lebih bijaksana, sedangkan akibat dari ilham adalah menyebabkan penerima wahyu tadi dijaga dari kesalahan di dalam pengajarannya.
E. Canonitas (Kanonisasi Alkitab)
Kata kanon, seperti dikutip oleh F.F. Bruce dari R.P.C. Hanson, memiliki arti yang sederhana yaitu daftar buku yang dimuat di dalam Alkitab, atau di dalam konteks Kristen boleh didefinisikan kata itu sebagai daftar dari tulisan-tulisan gereja sebagai sebuah dokuman dari inspirasi ilahi.
Kata kanon berasal dari kata Yunani kanon yang berarti batang, tangkai atau tongkat, secara khusus tongkat yang lurus sebagai sebuah pengukur. Dari penggunaan ini datang arti lain yang umumnya terkandung di dalam bahasa Inggris ‘rule’ atau ‘standard.’
Siapakah yang berhak mengumpulkan dan menentukan kitab-kitab dalam Alkitab seperti yang kita ketahui sekarang yakni 66 kitab, dan atas otoritas siapakah mereka melakukan hal itu? Ada satu prinsip yang sangat penting yang ditulis Paul Little di dalam bukunya Know What You Believe, yaitu bahwa di dalam proses kanonisasi harus disadari bahwa sebuah kitab adalah kitab yang diinspirasikan dengan menggolongkan kitab itu ke dalam kanon. Penggolongan ke dalam kanon hanyalah pengenalan otoritas sebuah kitab yang sudah dimilikinya.
Jika sebuah kertas berwarna putih, maka warna putih dari kertas tersebutlah yang membuat kita mengatakan bahwa kertas itu putih dan bukan karena kita mengatakan kertas itu berwarna putih sehingga menjadi putih. Demikianlah dengan proses kanonisasi. Bukan bapa-bapa gereja yang menentukan sebuah kitab masuk ke dalam kanon atau tidak. Mereka sama sekali tidak memiliki otoritas untuk itu. Tetapi kitab-kitab tersebutlah yang menyatakan diri mereka firman Allah. Bapa-bapa gereja hanyalah mengumpulkan mana kitab-kitab yang berotoritas ilahi dan menyisihkan mana yang tidak.
Alkitab Perjanjian Lama tidak terlalu bermasalah, karena seluruh kitab-kitab Perjanjian Lama sudah diterima dan diakui oleh orang-orang Yahudi, sejumlah yang kita kenal sekarang. Bahkan sekitar tahun 70 sebelum masehi, sudah diterjemahkan oleh sekitar 70 ahli Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani, di kota Aleksandria, Mesir. Terjemahan tersebut disebut sebagai septuaginta (LXX). Menurut W. Gary Crampton, kanon Perjanjian Lama sudah lengkap pada tahun 400 sebelum masehi, tetapi menurut Paul Little, kanon perjanjian Lama tidak diketahui dengan pasti kapan sudah lengkap. Mengenai kanon Perjanjian Baru, H. Berkhof mengatakan bahwa kanon tersebut sudah ditetapkan kira-kira tahun 200 dan secara definitif tahun 380. Sedangkan menurut W. Gary Crampton, Kanonisasi terakhir terjadi pada tahun 397 masehi di konsili Kartago.
Crampton juga menyatakan bahwa Perjanjian Lama diterima oleh bapak-bapak gereja pada saat kanonisasi karena, kepenulisannya bersifat kenabian, penerimaan oleh agama dan orang Yahudi secara Historis dan konsistensi doktrin dalam keseluruhan Perjanjian Lama. Kemudian Perjanjian Baru juga sama yaitu, bersifat kerasulan, penerimaan oleh gereja mula-mula, dan konsistensi doktrin serta keselarasan Alkitab.Dalam bukunya Little, seperti yang dikutipnya dari J.N. Birdsell, Canon of The New Testament, kanon Perjanjian Baru dikonfirmasikan pada saat konsili di Kartago tahun 397 dengan mengunakan tiga kriteria yaitu:
1. Apakah kitab itu bersifat kerasulan dari awalnya?
2. Apakah kitab itu digunakan dan dikenali oleh gereja-gereja?
3. Apakah kitab tersebut mengajarkan doktrin yang benar?
Yang pertama, apakah bersifat kerasulan atau tidak? Hal ini berarti bahwa kitab-kitab tersebut harus ditulis oleh rasul-rasul Yesus Kristus sendiri yaitu keduabelas rasul dan rasul Paulus (Yudas tentu tidak termasuk ke dalam golongan ini, jabatannya sudah diganti oleh Matias, Kis. 1:26), yang juga mendapat panggilan langsung dari Tuhan di dalam perjalanannya ke Damsyik, Kis. 9:3-6. Bandingkan juga dengan I&II Kor. 1:1;Gal. 1:1; Ef.1:1; I&II Tim.1:1; Tit.1:1. Tetapi ada juga kitab-kitab yang tidak ditulis oleh rasul-rasul sendiri, seperti kitab Injil Markus yang ditulis Markus, Injil Lukas dan Kisah Para rasul yang ditulis oleh Lukas serta surat Yakobus dan Yudas yang ditulis oleh Yakobus dan Yudas saudara-saudara Tuhan Yesus. Mereka semua bukanlah rasul tetapi mereka menulis di bawah pengaruh rasul-rasul.
Markus pernah berada di bawah pengaruh Paulus karena pernah menyertai Paulus di dalam perjalanannya, yang menjadi penyebab perselisihan antara Paulus dan Barnabas. Kis. 15:37-40. Secara khusus ketika Markus menulis Injil Markus, dia berada di bawah pengaruh dan bimbingan rasul Petrus. Sedangkan Lukas adalah rekan Paulus. Tidak diragukan lagi bahwa dia berada di bawah pengaruh dan bimbingan Paulus. Yakobus dan Yudas yang pada awalnya tidak percaya kepada Yesus, Yoh. 7:3-5, pada akhirnya mereka menjadi percaya, dan sejak mula mereka berada bersama-sama rasul-rasul di Yerusalem, Kis. 1:14.
Mengenai kitab Ibrani, yang penulisnya tidak mencantumkan nama, jika Paulus yang menulisnya, tidak ada masalah. Tetapi Jika Apolos, seperti pendapat sebagian ahli PB, maka kita dapat berargumen bahwa dia berada di bawah pengaruh Paulus. Hal ini bisa kita lihat dari dua hal yaitu:
1. Paulus menyebut Apolos di dalam suratnya, yang secara tidak langsung meneguhkan pelayanan Apolos dan kedekatan Paulus dengannya. Pertama, di dalam I Kor. 3:4-6. Walaupun tulisan Paulus ini untuk mengecam dan menyelesaikan perselisihan jemaat Korintus, tetapi Paulus mengatakan bahwa dirinya yang menanam dan Apolos yang menyiram. Pernyataan ini langsung meneguhkan kredibilitas pelayanan Apolos. Kedua, I Kor. 16:12. Di dalam ayat ini Paulus menulis bahwa ia mendesak Apolos untuk datang ke Korintus. Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki hubungan yang erat sekali di dalam pelayanan.
2. Konsep teologi Apolos pernah diluruskan oleh Priskila dan Akwila. Kita tahu bahwa Priskila dan Akwila adalah rekan pelayanan Paulus yang sangat dekat. Mereka dan Paulus, sama-sama pembuat tenda, Kis. 18:2-3. Doktrin atau teologi Priskila dan Akwila pasti dibentuk oleh pengajaran Paulus. Jadi, kedekatan antara Apolos dengan Priskila dan Akwila, menjadikan Apolos secara tidak langsung berada di bawah pengaruh bahkan bimbingan Paulus. Sehingga seandainya jika bukan Paulus yang menulis kitab Ibrani tetapi Apolos, maka tetap tidak menjadi masalah. Ke 27 kitab PB, lulus di dalam ujian yang pertama ini.
Yang selanjutnya adalah apakah kitab-kitab tersebut dikenali dan digunakan oleh gereja-gereja saat itu? Pengakuan adalah penting sekali. Jika sebuah kitab hanya diakui dan digunakan oleh sebuah jemaat saja, maka otoritas dari kitab tersebut patut dipertanyakan. Jika kitab itu sungguh-sungguh firman Allah, maka tentu dikenal dan digunakan secara luas oleh gereja-gereja saat itu. 27 kitab PB adalah kitab-kitab yang sudah lulus ujian ini.Yang Ketiga, apakah kitab-kitab itu, mengajarkan doktrin yang benar? Banyak kitab-kitab apokrifa yang ditulis pada abad kedua, yang masih mirip dengan kanon, tetapi di dalamnya ada muatan-muatan ajaran gnostik dan panteisme. Itu sebabnya injil-injil palsu seperti injil Thomas, injil Yudas, injil Maria Magdalena dan lain-lain, bahkan yang muncul paling belakangan yaitu injil Barnabas, kita tolak. Tetapi, ke 27 kitab PB yang menjadi kanon, sangat sepakat di dalam doktrin yang disuarakannya. Itu sebabnya, kitab-kitab itu lulus juga pada ujian ini.
F. Iluminasi
Kata "iluminasi" berasal dari bahasa Yunani "photizo", artinya "menerangi, memberi penerangan batin" (Yoh 1:9; Luk 11:36; 1 Kor 4:5; Efe 1:18). Berdasarkan pengertian etimologis tersebut kita bisa mengambil definisi dari Iluminasi adalah sebagai berikut: Pekerjaan Roh Kudus yang membantu membukakan pikiran dan hati orang percaya supaya mereka dapat mengerti (menafsirkan) Alkitab dengan benar dan mengaplikasikan kebenaran itu dengan sunguh-sungguh dalam kehidupan mereka (1 Kor 2:14).
Mengapa untuk mengerti Alkitab kita membutuhkan bantuan Roh Kudus? “Karena pikiran dan hati manusia ada dalam kegelapan (1 Kor 2:14; Efe 4:17, 18). Roh Kudus berfungsi sebagai penerang sehingga pikiran dan hati manusia dapat melihat kebenaran dengan benar”.
Karena sifat hati manusia yang bebal (Yes 6:9-10; Kis 28:26). Walaupun Alkitab menyatakan kebenaran, manusia tidak mau melihat kebenaran karena manusia hanya tertarik kepada diri sendiri dan bukan kepada hal-hal yang Allah kehendaki. Karena melawan pekerjaan Setan (2 Kor 4:3-4). Setan tidak ingin manusia mengetahui kebenaran dan manusia tidak mungkin mampu melawan setan yang penuh tipu muslihat, kecuali Roh Kudus yang menolong.
Karena manusia sangat dipengaruhi oleh kuasa kedagingan (1 Kor 3:1-2; Ibr 5:12-14). Apa yang disukai Allah, yaitu kebenaran, tidak disukai manusia. Tanpa campur tangan Roh Kudus manusia tidak mungkin mau mengikuti kebenaran, karena ia telah dikuasai oleh roh kedagingan yang mencintai diri sendiri.
Hubungan Inspirasi dan Iluminasi
Dalam Inspirasi, Roh Kudus memberikan ilham kepada para penulis Alkitab, sehingga mereka dapat menuliskan Penyataan Tuhan dengan benar dan tepat sesuai dengan yang Allah kehendaki. Dalam Iluminasi, Roh Kudus memberikan penerangan kepada para pembaca Alkitab agar mereka dapat mengerti dan menerima apa yang dimaksudkan oleh Penyataan Tuhan yang tertulis itu dengan benar dan tepat.
Hal yang membedakan antara Inspirasi dan Iluminasi adalah bahwa pekerjaan Roh Kudus dalam penginspirasian Alkitab sudah selesai. Tidak akan ada lagi inspirasi (wahyu) baru di luar Alkitab, karena Alkitab yang kita miliki sekarang sudah lengkap dan sempurna. Tetapi pekerjaan Roh Kudus dalam memberikan iluminasi-iluminasi baru kepada orang-orang percaya masih berlaku hingga saat ini. Roh Kudus memberikan iluminasi tetapi tidak untuk menambah dari apa yang sudah ada dalam Alkitab. Dan Roh Kudus bekerja dengan Firman dan melalui Firman, tetapi tidak melawan Firman. Itu sebabnya, Alkitab harus menjadi tolok ukur untuk kita mengkonfirmasikan segala sesuatu yang kita percaya, pelajari, dan yang kita lakukan (Maz 119:105).
Jadi, dengan kata lain, pekerjaan Roh Kudus dalam memberikan inspirasi kepada para penulis Alkitab sudah selesai sejak dari jaman rasul-rasul, tetapi Roh Kudus terus bekerja hingga saat ini untuk memelihara Alkitab yang diinspirasikan itu, dan menolong/membimbing orang percaya untuk mengerti maksud isi Alkitab tersebut ketika mereka mempelajarinya.
Peranan Roh Kudus dalam Iluminasi
Roh Kudus memiliki tugas untuk menerangi (mengiluminasi) pikiran dan hati manusia, sehingga manusia yang sedang mempelajari Alkitab itu dapat mengertinya dengan benar sesuai dengan apa yang dimaksud oleh Allah. Roh Kudus tahu persis isi hati dan pikiran Allah, karena Dialah yang ada di belakang proses penulisan Alkitab. Jika tujuan Allah memberikan Alkitab adalah supaya Ia dikenal oleh manusia, maka tujuan akhir iluminasi adalah supaya manusia mengenal Allah dengan benar melalui Penyataan-Nya (Alkitab), sehingga manusia mengerti akan kehendak Tuhan dan melakukan apa yang berkenan kepada Allah. Dengan demikian hasil akhir yang diharapkan adalah hanya Allah saja yang ditinggikan dan dimuliakan.
Sebagai kesimpulan, Roh Kudus mempunyai peran bukan hanya sebagai Penulis Alkitab, tetapi juga sebagai Penerang (iluminasi) dan Penafsir Alkitab, bahkan sekaligus Pengajar Alkitab. Karena Roh Kudus lah yang memimpin maka dijamin bahwa apa yang ditulis, dinyatakan dan dipelajari manusia tidak akan salah, karena semuanya dikerjakan oleh Oknum Ketiga dari Allah Tritunggal yang sama, yaitu Roh Kudus ( Efe 3:4, 5, 1 Kor 2:12, 13, Yoh 14:26, Yoh 16:13-15, 2 Pet 1:21 ).
G. Keperluan Mutlak (Necessity)
Defenisi keperlan mutlak adalah Alkitab diperlukan secara mutlak untuk mengenal kristus, agar kita bisa diselamatkan. Karena hanya alkitablah yang memberitakan kebenaran “kabar baik” tentang kristus (Rom 1:16). Penekanan disini bukanlah keperluan untuk mengenal Allah dalam arti keberadaan dan sifat-sifat umum Allah, dan hal-hal tentang moralitas. Karena Alkitab adalah satu-satunya sumber untuk mengenal Allah; Injil yang mempunyai kuasa yang menyelamatkan maka manusia harus membaca Alkitab atau mendengar dari orang lain Firman dalam Alkitab.
Kesimpulan
Akhirnya bisa disimpulkan di sini bahwa Alkitab berasal dari Allah saja dan menyatakan kepada manusia siapa itu Allah. Karena Alkitab berasal dari pada Allah maka bisa dikatakan Alkitab merupakan firman Allah yang berbeda dengan semua buku-buku yang ada di dunia ini. Selain itu Alkitab juga memiliki sejumlah ciri-ciri yang menegaskan akan kewibawaannya sebagai firman Allah.
Allah sudah melakukan bagian-Nya, yaitu memberikan Alkitab dan menyatakan diri-Nya di situ. Sekarang bagian kita, yaitu menerima Alkitab itu dengan rendah hati sebagai firman Allah. Lalu membaca dan merenungkannya sehingga dari situ kita boleh semakin mengenal Allah dan dengan semakin mengenal-Nya tentu kita akan semakin mengasihi-Nya.
Dari pemaparan tentang sifat-sifat Alkitab, kita dapat memastikan bahwa Alkitab merupakan Fiman Allah yang memiliki otoritas. Alkitab memang sebuah Karya Ilmiah namun tidak sama dengan Karya Ilmiah lainnya karena Alkitab di inspirasikan atau di wahyukan oleh Allah kepada manusia dan Roh kudus membimbing/menuntun orang-orang yang dipilih Allah untuk menuliskan Alkitab. Lkitab masih relevan sampai kapanpun sebab Alkitab adalah perkataan Allah yang kekal yang tidak berkesudahan sampai akhir zaman/ sampai kedatangan-Nya yang kedua kali.
Langganan:
Postingan (Atom)