Kamis, 07 Desember 2017
Injil Matius
INJIL MATIUS
Pengarang Kitab Injil Matius
Menurut Willi Marxsen dalam bukunya “Pengantar Perjanjian Baru” mengatakan adanya nama pemungut cukai yang dipanggil sebagai murid Matius dan bukan Lewi bukanlah suatu petunjuk yang terselubung dari sipengarang melainkan berhubungan dengan kenyataan bahwa dalam daftar para murid tidak ada nama Lewi. Namun hal ini masih dugaan karena sumber-sumber tradisi Gereja di periksa menggunakan Injil bahasa Aram sedangkan Injil yang kita miliki menurut anggapan para ahli bukanlah terjemahan namun karangan asli Yunani. Sementara menurut J.Jeremias yang mengatakan bahwa ayah Matius mempunyai nama Lewi dan bahwa nama itu menjadi nama julukan bagi anaknya juga. Sementara menurut J.J.de Heer dalam bukunya “Injil Matius pasal 1-22” ditulis bahwa dalam Injil Matius sipengarang tidak menyebutkan namanya.
Nama Injil Matius yang biasanya dipakai hanya berdasarkan satu tradisi yang tua. Para ahli pada umumnya berpendapat bahwa mustahil Injil ini dikarang oleh Rasul Matius sendiri sebab dalam banyak hal Injil Matius mengambil ahli isi Injil Markus. Misalnya dalam ayat Matius 14:22-27 dan Markus 6:45-50 tidak masuk akal bahwa seorang murid Yesus yang hadir pada perbuatan-perbuatan Tuhan Yesus akan mengikuti cerita Injil Markus yang tidak hadir pada perbuatan-perbuatan itu. Pasti seorang murid Yesus akan memberi lukisannya sendiri. Namun demikian, bisa didapat alasan-alasan bahwa gereja tua menganggap bahwa ada hubungan antara Injil yang pertama dengan Rasul Matius.
Sementara menurut Jhon Drane dalam bukunya “Memahami Perjanjian Baru” yang menyatakan tidak ada kesepakatan tentang siapa penulis kitab Injil Matius ini dan kapan ditulisnya. Untuk sementara dapat dikatakan Kitab ini anonim dan tidak menyatakan siapa penulisnya. Tidaklah mudah kita untuk memahami siapa yang menulisnya dan siapa saksi dari peristiwa-peristiwa dalam kitab Injil Matius tersebut.
Dalam buku “Mengenal Kitab Perjanjian Baru 1” karangan Pdt. Haposan Silalahi, M.Th mengatakan Injil Matius ditulis oleh Rasul Matius dalam bahasa Ibrani atau Aram. Nampaknya tidak dapat disangkal bahwa Rasul Matius memang memakai sangkut-paut dengan Injil yang memakai namanya, bukan dalam isi, tetapi dalam judul, yang barang kali diikatkan pada Injil ini pada permulaan abad ke-2. Apa dan dalam bentuk apa sebenarnya hubunga Rasul Matius dengan Injil tidak dapat diketahui dengan tepat, tapi kalau bukan dia penulis Injil itu, besar sekali kemungkinan bahwa Ia adalah seorang pemimpin dalam masyarakat dimana Injil ini lahir (masyarakat yang dimaksud barangkali adalah semacam sekolah katekisasi).
Dalam kutipan yang diambil Pdt. Haposan Silalahi, M.Th “Para ahli Perjanjian Baru” berpendapat bahwa Injil Matius dikarang di Syria. Dan tidak dapat dipastikan bahwasannya Matius adalah penulisnya. Dalam buku ini juga terdapat sebuah kutipan yang diambil dari“Prof. K. Standhal” dimana ia berpendapat bahwa Injil Matius dikarang bukan oleh seorang saja, melainkan oleh kumpulan orang yang bekerjasama saling membantu. Sehingga penulis Injil Matius tidak dapat diputuskan secara tepat, tetapi yang jelas ia adalah seorang Kristen-Jahudi diwilayah Syria.
Yusak B. Hermawan dalam bukunya “my New Testament” menuliskan bahwa dari semua Kitab Injil, tak ada satupun yang menyebutkan penulisnya. Jika kita menemui Alkitab yang menulis nama, nama itu ditambahkan oleh para penerjemah Alkitab. Yusak B. Hermawan juga mengutip pendapat dari Ola Tulluan, bahwasannya para penulis itu lebih suka tidak diketahui namanya karena tidak mau mencuri kemuliaan Tuhan.
DR. J.T. NIELSEN dalam bukunya “Kitab Injil Matius 23-28” ia berpendapat bahwa Injil Matius ditulis oleh tokoh Lewi atau Matius yang tampil kedalam tiga Injil sinoptis.
Kenyataan bahwa ia disebut ‘Matius’ dan bukan ‘Lewi’ waktu ia dipanggil oleh Yesus untuk mengikuti-Nya tidak dapat dipakai sebagai alasan yang kuat bahwa dialah penulisnya. Apa dan dalam bentuk apa sebenarnya hubungan Rasul Matius dengan Injil ini tidak dapat diketahui dengan tepat, tapi kalau bukan dia penulis Injil ini lahir. Atau kalau bukan demikian, mungkin ia mempunyai peranan penting dalam pengumpulan dan penurunan bahan-bahan yang dimasukkan kedalam Injil itu. Susunan yang sistematis dari Injil itu sering dianggap menunjukkan tanda-tanda pekerjaan seorang pejabat cukai. Bagaimana juga, penulis Injil ini mungkin berpikir tentang tugasnya sendiri waktu ia menulis, bahwa “setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal kerajaan surga itu seumpama tuan rumah yang mengelurkan harga yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”
Tradisi gereja berabad-abad lamanya menunjukkan bahwa Rasul Matius yang disebut Lewi anak Alfeus adalah pengarang Injil Matius yang dibicarakan dalam Mrk. 2:14; Luk. 5:27-29, Mat.9:9, 10:3. Ia adalah seorang pemungut cukai dan kemudian menjadi pengikut Yesus.
Papias, Bishop di Asia Kecil pada abad ke-2, mengatakan bahwa Matius menulis hal-hal tentang Yesus Kristus dalam bahasa Ibrani, dengan alasan bahwa hanya Matius yang menjelaskan tentang siapa Matius dalam Mat. 10:3, yaitu Matius pemungut cukai, memang bila dilihat dari kemampuan menulis serta sistematisnya, maka Matius yang sebagai pemugut cukai yang sudah cukup terlatih dalam administrasi, akan lebih lancar dalam hal membuat catatan-catatan dari pada murid yang lain.
Para ahli Perjanjian Baru berpendapat bahwa “Injil Matius” dikarang di Syria. Mungkin rasul Matius pernah bekerja dalam daerah itu, sehingga jemaat-jemaat Kristen disitu menghormatinya sebagai ‘seorang Bapak’, begitulah dugaan Prof W. Grundmann dalam buku tafsirnya yang terkenal mengenai Injil Matius. Kalau itu benar maka orang yang mengarang ‘Injil Matius’ itu mungkin sekali dipengaruhi oleh cara mengajar Rasul Matius.
Sehingga banyak para ahli yang menyatakan tidak dapat dipastikan bahwa Matius pemungut cukai sebagai penulis Injil Matius. Maka prof. K. Stendahl berpendapat bahwa Injil Matius dikarang bukan seorang saja, melainkan oleh kumpulan orang yang bekerja sama saling membantu.
Sehingga penulis Injil Matiius tidak dapat diputuskan secara tepat, tetapi yang jelas ia adalah seorang Kristen-Jahudi yang hidup disalah satu pusat wilayah Siria. Selain itu ia juga menguasai kitab suci Perjanjian Lama dan tradisi hidup bangsanya.
Waktu Dan Tempat Kitab Injil Matius Ditulis
Tidaklah mungkin kita dapat memastikan kapan Injil Matius itu diselesaikan. Ada beberapa ahli yang mengungkapkan atau yang berpendapat tentang kapan dan dimana Injil Matius ini ditulis. Oleh karena itu mereka memasukkan dalam catatan-catatan sejarah mereka tentang kitab Injil Matius ini. Menurut J.J. de Heer dalam bukunya Injil Matius pasal 1-22 yang mengatakan bahwa Injil Matius dikarang sekitar 80 tahun. Dengan dua alasan :
Pada tahun 70 terjadi suatu peristiwa yang penting yaitu bait Allah di Yerusalem dibakar oleh tentara Romawi ketika orang Romawi mengalahkan orang Yahudi yang telah memberontak terhadap pemerintahan Romawi. Ahli-ahli pada umumnya menganggap hal itu sebagai suatu tanda bahwa injil Matius dikarang setelah pembakaran bait Allah yang terjadi pada tahun 70.
Orang Yahudi yang masih hidup setelah bait Allah dibakar tidak dapat mengejar tujuan politis lagi. Mereka memusatkan perhatiannya kepada suatu organisasi rohani dibawah pimpinan ahli-ahli taurat. Ahli-ahli taurat itu mulai membedakan dan lebih tegas ajaran yang benar dan aliran yang sesat. Antara lain ajaran Kristen dilarang secara tegas sebagai ajaran orang Yahudi. Dalam situasi itu sekitar tahun 80 Injil Matius dapat ditetapkan.
Injil Matius ini ditulis dalam bahasa Yunani, walaupun banyak ungkapan dan adat Yahudi telah dikenal (Matius 15:5) mengingatkan kita pada daerah diluar Palestina. Selain itu Injil ini diutamakan untuk pembaca Yahudi dan didukung oleh pusat Gereja. Menurut Prof.W.Grundmann dalam buku “Injil Matius pasal 1-22” bahwa pengarang Injil Matius hidup dibagian Selatan dari Syria dekat perbatasan Palestina.
Kesimpulan sementara:
Injil Matius ini ditulis antara tahun 72-85. Drs. M.E. Duyverman dalam bukunya “Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru” menuliskan bahwa sedikit sekali terdapat bahan-bahan tentang waktunya Injil ini dikarang. Dari Sastra Kristen diluar Alkitab, kita melihat bahwa kira-kira tahun 100 Injil ini sudah dikutip, jadi sudah diakui dan dihormati. Hal ini berarti waktunya dikarang sedikit sebelum tahun 100. Kesimpulannya Injil ditulis antara tahun 72-85. Tempat penulisan ini tertuju ke Antiokhia yang didukung oleh pusat gereja.
John Drane dalam bukunya “Memahami Perjanjian Baru” menyatakan bahwa waktu penulisan Injil Matius dapat ditentukan pada periode tahun 80-100 M (sesuai dengan pendapat mayoritas ahli), atau tahun pra-70 M, bahkan mungkin tahun 40-60 M (sesuai pendapat Robinson, Guthrie dan satu atau dua penulis Jerman).
Dalam buku ”Pengantar Perjanjian Baru” yang dikarang oleh Willi marxsen menyatakan bahwasannya Matius mungkin ditulis pada tahun 80-an di abad pertama. Mengenai tempat asal usulnya, kemungkinan satu-satunya adalah suatu wilayah kristen Yahudi, dan kemungkinan kita harus mempertimbangkan satu tempat di Siria.
Dalam buku “Kitab Injil Matius 23-28” oleh DR. J. T . NIELSEN menyatakan bahwa Injil Matius mungkin sekali ditulis antara tahun 80 dan 90 M, oleh tokoh Lewi atau Matius. Tempat penulisannya Syria, entah Syria bagian selatan (yang berbatasan dengan Galilea), atau kota Antiokhia di Syria utara.
B.F. Drewes dalam bukunya “Satu Injil Tiga Pekabar” mengemukakan bahwasannya Injil Matius disusun dalam periode antara 75-90 M, tentang tempat penulisan sendiri banyak ahli mengusulkan Syria sebagai tempat munculnya.
Waktu penulisan Injil ini sangat sulit untuk memastikannya. Kesulitan ini disebabkan banyak pendapat ahli yang menunjukkan waktu penulisan yang berbeda-beda. Tetapi yang jelas Injil ini ditulis setelah Injil Markus Kemudian dalam Matius 22:7 yang dapat menjadi petunjuk mengenai waktu penulisan Kitab ini adalah:
“maka murkalah raja itu lalu menyuruh pasukannya kesana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka”
Ayat tersebut merupakan sebagian dari suatu perumpamaan perjamuan kawin. Ayat ini ditafsirkan sebagai suatu peristiwa hukuman kepada banyak orang yahudi yang telah menolak perjamuan kerajaan Allah. Banyak ahli yang mengambil ayat ini sebagai tanda waktu penulisan Injil Matius dan menghubungkan dengan terbakarnya kota yerusalem pada tahun 70 oleh pemerintah Romawi. Oleh karena itu pembakaran Bait Allah sudah terjadi, maka Injil Matius menekankan peristiwa ‘pembakaran kota’ itu sebagai hukuman Tuhan kepada orang yang tidak mendengarkan peringatan dari-Nya. Jadi mengenai waktu penulisan Injil ini dapat disimpulkan antara tahun 75-90 Masehi.
Banyak ahli menunjuk Syria sebagai tempat penulisan Injil ini. Yang dapat dipakai sebagai petunjuknya yaitu Mat. 4:24a yang berkata :
“Maka tersiarlah berita tentang Dia diseluruh Syria... ...
Alasan lain adalah bahasa asing yang dipakai dalam kitab ini adalah bahasa Yunani. Pada zaman itu 20% penduduk Syria adalah orang Yahudi yang memakai bahasa Yunani. Selain itu pada abad pertama Masehi ada gereja purba disana.
C. Sumber-sumber Pengarang dalam Kitab Injil Matius
Tentang Injil Matius para ahli menganut hipotesis dua sumber yang artinya pengarang mempergunakan Injil Markus dan memakai Q (kependekan dari kata Jerman Quelle) yang berarti sumber terutama berisi kata-kata Yesus. Pada abad ke 20 hipotesis dua sumber sudah ada dan tetap dianut oleh ahli-ahi Perjanjian Baru.
Menurut John Drane dalam bukunya ada lima sumber pengarang dalam kitab Injil Matius antara lain :
Hukum baru : Cerita (pelayanan di Galilea, Mat. 3-4). Pengajaran (khotbah di Bukit, Mat. 5-7).
Pemuridan Kristen : Cerita (Mat. 8:1-9:34). Pengajaran (Mat. 9:35-10:42).
Makna Kerajaan : Cerita (Mat. 11-12). Pengajaran (Mat. 13:1-52).
Jemaat : Cerita (Mat. 13:53-17:27). Pengajaran (ketertiban, disiplin, ibadah Mat. 18).
Penghakiman : Cerita (pertentangan di Yerusalem Mat. 19-22). Pengajaran (mengenai kaum farisi Mat. 23-25).
B.F. Drewes dalam bukunya “Satu Injil Tiga Pekabar” menuliskan bahwa kitab Matius memakai bermacam-macam bahan untuk penyusunan Injilnya: ia mempergunakan Markus dan juga bahan Q serta bahan yang hanya muncul dalam Matius (bahan “M”). Seringkali – khusus dalam bagian kedua kitabnya – ia mengambil-alih bahan Markus dalam urutan seperti ada dalam Markus.
Drs. M. E. Duyverman meyatakan dalam bukunya “Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru” pokok yang sering disebut dua kali (doublet) terjadi karena pengarang yang mengulanginya.
Hampir semua bahan yang terdapat dalam Injil Markus terdapat pula dalam Injil Matius dan Lukas. Namun ada pula bahan-bahan yang terdapat pada Injil Matius dan Lukas, tetapi tidak terdapat dalam pada Injil Markus. Sumber yang dipakai kedua kitab ini adalah sumber “Q”. Dalam perikop Matius 6:19-24 oleh pengarang Injil Matius. Selain bahan Injil Markus dan sumber “Q” terdapat pada Injil Matius. Masih ada pula sumber lain. Apabila kita melihat bahan-bahan yang terdapat pada Injil Matius. Tetapi bahan-bahan tersebut bukan berasal dari Injil Markus dan sumber “Q” serta tidak terdapat pula pada Injil Lukas. Bahan-bahan tersebut bukan berasal dari tradisi-tradisi yang dilihat oleh pengarang Injil Matius. Yang disebut sumber “M”. Sumber “M” tersebut merupakan bahan khas dari Injil Matius, misalnya Matius 2:1-12; 6:1-8; 13:24-30.
Jadi sebagai kesimpulan mengenai sumber-sumber penulisan Injil Matius adalah dari Injil Markus dan sumber “Q”. Selain itu pula pengarang Injil Matius memiliki bahan khas Matius yang disebut sumber “M”, yang diterimanya melalui tradisi lisan dan tulisan.
D. Maksud dan Tujuan Kitab Injil Matius
Kitab Injil Matius mempunyai tiga maksud khusus; apologetis, dimana pengarang Injil Matius memperlihatkan bahwa Yesus Kristus yang dijanjikan para nabi dalam Perjanjian Lama sudah dipenuhi. Dengan jalan ini Injil Matius memberi bahan kepada orang Kristen untuk membela Agama Kristen dimuka orang Yahudi yang menolak Yesus sebagai Mesias (Matius 8:17). Kateketis, artinya kitab injil Matius memberi pengetahuan tentang pokok-pokok Agama Kristen secara teratur. Parenetis, artinya Injil Matius memberi nasehat atau teguran, pengarang Injil Matius menekankan bahwa dengan masuknya jemaat Kristen belum cukup bagi seseorang anggota untuk diselamatkan.
Menurut J.D.Kingsbury mengatakan bahwa tujuan kitab Injil Matius adalah untuk menunjukkan Yesus adalah anak Allah dan mesias.
Menurut Willi Marxsen kerangka ini sebenarnya sudah cukup menunjukkan suatu kecenderungan “penyejarahannya”, karena Matius menempatkan ‘sejarah’ Yesus dalam suatu konteks yang luas, membentang dari Abraham sampai permulaan misi Kristen. Adanya celah yang besar antara kelahiran dan penampakan Yesus didepan umum semata-mata.
muncul dari kenyataan bahwa penulis tak punya bahan ditangannya, karena pada mulanya Gereja mula-mula tidak menaruh minat terhadap biografi Yesus.
Menurut Drs. M.E. Duyverman maksud dan tujuan Injil Matius ialah untuk meyakinkan dengan sistematis dan dengan penuh hormat bahwa Yesus adalah Mesias yang sudah dijanjikan oleh Allah dalam Perjanjian Lama. Di dalam Dia Kerajaan Allah telah datang, dan akan berkembang sampai pada kesudahan alam. Barang siapa menerima Dia, ia menjadi anak kerajaan sorga, terang dunia, yang kebenarannya melebihi kebenaran yang sudah ada. Injil ini ditujukan untuk orang Yahudi.
Pdt. Haposan Silalahi, M.Th menyatakan sebagai mana penulisan dalam Injil Matius ini yang ditulis dalam bahasa Yunani, dan juga menggunakan istilah- istilah Aramaica, maka dapat dikatakan bahwa Injil ini di tulis bagi jemaat yang berbahasa Yunani memahami istilah Aramaica tersebut. Dengan demikian banyak para ahli sepakat bahwa Injil Matius ditujukan kepada lingkungan yang biasa dengan bahasa dan adat istiadat Yahudi.
Adapun tujuan Injil Matius ini adalah :
Tujuan Apologetis (pembelaan iman)
Katekhase (pengajaran)
Paranetis (nasehat, teguran)
Kesimpulannya adalah bahwa Injil Matius dituliskan bagi jemaat yang bisa berbahasa Yunani saja pada saat itu, dimana ini bertujuan sebagai pembelaan terhadap iman, pengajaran, memberikan nasehat, dan teguran-teguran.
F. Kanon dalam Injil Matius
Mungkin kesan pertama yang paling mencolok yang kita dapatkan tentang injil Matius ketika kita beralih dari Injil Markus ke Injil Matius ini adalah sangat meningkatnya jumlah ajaran Yesus. Matius memasukkan hampir seluruh Injil Kedua kedalam tulisan sepanjang satu setengah kali Injil Markus, dan sebagian besar dari bahan yang lebih itu merupakan ajaran. Pernyataan yang paling penting dalam maksud dan tujuan di tulisnya Injil Matius ini ialah untuk menyatakan perbandingannya dengan ajaran Musa (Taurat 5 Kitab) Yesus adalah nabi yang akan datang sesudah Musa (Kis. 3:22, 23).
Disamping itu, Matius menambah banyak bahan asli, misalnya kepada cerita tentang Yesus berjalan di atas air (Mrk. 6:45-52; Mat. 14:22-23), ditambahkan perumpamaan yang baru.
Namun, harus diperhatikan pula suatu hal yang penting yakni kutipan-kutipan Matius sendiri adalah sama dengan naskah bahasa Ibraninya, jadi pengarang adalah seorang yang tahu dan biasa mempergunakan Perjanjian Baru dalam bahasa asli. Selain kutipan-kutuipan itu, beberapa pribahasa masih menyatakan bahwa Injil ini mempunyai “pandangan Yahudi”: misalnya selalu digunakan istilah “Kerajaan Sorga” sebagai ganti “Kerajaan Allah”(Mat 3:2; 4:17; Mrk 1:15; Mat13:24, 31, 33, 44, 45, 47 – Mrk 4:26, 30 dll).
Perkembangan kanon dalam kitab Injil Matius adalah sebagai berikut:
Perkembangan sampai kira-kira tahun 180
Kepastian tidak ada dalam soal ini. Tetapi, atas dasar yang cukup kuat dapat dikemukakn dugaan: daftar nats Injil Matius mengenai mesias yang digunakan dalam pemberitaan, untuk meyakinkan bahwa Yesus ialah Mesias. Dan kumpulan perkataan Kristus, yang merupakan dasar untuk membentangkan pengajaranNya. Antara lain “logia”, karangan yang telah dkenal “papias”. Mungkin beberapa papirus yang didapati di Mesir, yang berisikan kata-kata Yesus juga, termasuk catatan serupa ini.
Perkembangan sampai kira-kira 120 ke atas
Pada fase perkembangan ini, diakui. Hal ini nyata dari pemberitaan dari para Bapa Rasul, dari karangan seperti Pengajaran Keduabelas Rasul, yang dengan nama asingnya disebut Didakhe.
Dari Tahun 180-220
Walaupun keterangan-keterangan dari zaman ini belum mencukupi, tetapi sumber-sumber sudah jauh lebih banyak, ada bebagai catatan dari Ireneus, Tertullianus, dan Klemen Alexandrius.
Dari Tahun 220 Sampai Tamat
Berdasarkan bahan-bahan dari Origenes, ia membuat daftar sebagai berikut:
Yang umumnya diakui ialah: keempat Injil, surat-surat Paulus, 1 Petrus, 1 Yohanes, Kisah Para Rasul dan Wahyu.
Yang disangsikan ialah: Surat Ibrani, 2 Petrus, 2 dan 3 Yohanes, Yakobus, Yudas dan Injil Ibrani.
Menurut Willi Marxsen mengatakan bahwa dari sudut pandangan historis penentuan kanon Perjanjian Baru terjadi secara kebetulan ini benar-benar bila dilihat dari dua arah: pertama-tama adalah suatu kebetulan bahwa hanya dokumen-dokumen itu yang sempat disimpan yang dapat diterima ke dalam kanon. Karena itu tidaklah mungkin kita menyebutkan Perjanjian Baru seperti apa yang kita temukan saat ini karena dalam arti sesungguhnya hanya kesaksian rasuli tentang Yesus sebagai penyataan Illahi yang dapat disebut kanonis. Namun pada pihak-pihak lain kanon ini hanya dapat dicapai melauli Perjanjian Baru.
B.F. Drewes menyatakan jika kita memperhatikan karya Matius sebagai penyusun atau redaktur Injilnya, kita dapat melihat bahwa beberapa cara menyusun yang terdapat dalam PL dipakai Matius juga. Umpamanya dengan mengulangi istilah atau perkataan tertentu, ia menyatakan bahwa istilah atau perkataan ini merupakan “kata kunci” dalam bagian yang bersangkutan. Berikut adalah dua contoh baru penyusunan oleh Matius, dimana hal susunan konsentris kelihatan. Kedua contoh itu ialah 1) 4:17 – 11:1 dan 2) 13:1 – 52.
1). 4:17 – 11:1. Bagian ini dimulai dan diakhiri dengan catatan bahwa Yesus “memberitakan”. Jadi, disini ada suatu “inklusio”. Ditengah kedua ayat ini kita mendengar pemberitaan Yesus, yang memang meliputi pengajaran dan penyembuhan, seperti yang jelas dari 4:23 dan 9:35. Dalam kedua nats ini kita membaca (terjemahan harfiah) tentang ketiga hal tersebut:
Yesus “mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil kerajaan. dan menyembuhkan segala penyakit dan segala kelemahan...”
Dari uraian diatas kiranya sudah jelas bahwa Matius adalah redaktur yang bekerja dengan teliti; ia menyusun dengan persis, agar- melalui bentuk yang ia pakai – ia menggambarkan dengan terang siapa Yesus Mesias, bagi dunia ini.
Drs. M.E. Duyverman menyatakan ragam-ragam kutipan yang terdapat pada Injil Matius itu berlainan: pada umumnya kutipan-kutipan yang juga terdapat dalam Markus dan Lukas, mirip dengan bunyi septuaginta, sedangkan yang khusus kepunyaan Matius adalah sesuai dengan punya Ibrani. Jadi ini menjadi bukti, betapa kuatnya pengarang bersandar pada sumbernya. Jika Matius yang ditulis lebih dahulu, maka agaknya semua kutipan itu akan sama ragamnya, entah sesuai dengan septuaginta atau dengan masora. Kutipan-kutipan Matius sendiri adalah sama dengan naskah bahasa Ibraninya, jadi pengarang adalah seorang yang tahu dan biasa mempergunakan Perjanjian Lama dalam bahasa asli. Selain kutipan-kutipan, beberapa peribahasa masih menyatakan bahwa Injil ini mempunyai “pandangan Yahudi”.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar