KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan atas berkat dan karunianya yang melimpah, hingga pada saat ini Tugas ini dapat selesai tepat pada waktunya. Sebelumnya penulis menyadari bahwasannya banyak kekurangan dalam Tugas kami ini karena keterbatasan sumber dan keterbatasan pengetahuan dari penyaji/penulis.
Demikian kiranya, semoga karya tulis ini dapat bermanfaat dan dapat memberikan ilmu yang cukup untuk mengetahui topik mata kuliah yang diberikan. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pada masa ini banyak orang yang meragukan Alkitab sebagai Firman Tuhan. Para ahli berpendapat bahwa Alkitab hanyalah sebuah karya sastra yang sama dengan buku-buku sejarah lainnya. Ini menyebabkan banyaknya polemik dan perdebatan tentang hal itu. Namun secara iman Kristen mengakui bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang hidup yang berisi tentang pegangan hidup orang Kristiani.
Di zaman modern sekarang ini pasti banyak yang bertanya tentang Alkitab, bahkan banyak yang mengatakan bahwa Alkitab yang ditulis sekarang telah diperbaharui dari Alkitab yang sebenarnya atau palsu. Ini merupakan pandangan yang telah di konsumsi banyak orang termasuk orang-orang non Kristen, dan ini bisa berdampak buruk jika tidak bisa memberikan jawaban dengan baik dan tepat.
Disinilah saya akan memaparkan pandangan-pandangan tentang alkitab dan proses terjadinya Alkitab sehingga kita dapat memastikan bahwa Alkitab itu Firman Allah yang eksis sampai kesudahan zaman.
BAB 2
1. Apakah Itu Alkitab ?
Alkitab berasal dari bahasa Yunani, “Biblos” yang artinya buku atau kitab. “Ta Biblia”, “Biblion” adalah bentuk jamak yang artinnya buku-buku atau kitab-kitab dari kata tersebutlah muncul kata “Bible” dalam bahasa inggris, lalu diterjemahkan kedalam bahasa indonesia menjadi Alkitab. Alkitab adalah kumpulan kitab yang terdiri dari 66 kitab yang dibentuk dan disatukan melalui proses kanonisasi yang artinya adalah “standar” atau “ukuran”. Alkitab adalah kumpulan kitab yang terdiri dari 66 kitab yang diproses melalui apa disebut kanonisasi. Kanonisasi dari kata "Kanon" artinya "standar" atau "norma" atau "peraturan”. Jadi Alkitab adalah tulisan yang memenuhi standar.
Alkitab adalah firman Allah, karena firman Allah berkuasa, ia tentunya menyampaikan sesuatu yang mempunyai arti. Firman Allah bukanlah kuasa yang berdiri sendiri tanpa mempunyai arti. Firman itu berkata-kata, dan memberikan pesan kepada umat manusia, oleh sebab itu sudah seharusnya manusia mengenal alkitab agar dapat mengenal siapa itu Allah, mendengar, mentaati perintah dan petunjuknya. Hal tersebut menunjukkan bahwa Alkitab adalah firman Allah yang berkuasa dan sekaligus berarti.. Alkitab tidak boleh dianggap sebagai dokumen untuk studi akademis saja karena ia dapat saja mepunyai arti bagi orang yang mempelajarinya, tetapi firman itu sendiri tidak akan memberikan daya kuasa yang efekif.
Alkitab bukanlah hanya sebuah catatan atau karya tulis yang dibuat dan direkayasa oleh nabi dan rasul, melainkan adanya Alkitab itu karena Allah berinisiati mengilhamkan kepada para penulisnya firman tersebut, sehingga mereka menghasilkan tulisan tanpa salah dan secara akurat menyampaikan firman dan kehendak Allah.
Alkitab adalah satu-satunya sumber dari sgala pengetahuan manusia tentang Allah. Allah tetap berinisiatif menyatakan dirinya secara khusus melalui alkitab sehingga alkitab menjadi satu-satunya patokan yang berotoritas bagi orang percaya. Jadi sebagai manusia biasa, mungkin banyak dari kita yang bertanya apakah Alkitab itu memang firman dari Allah? Untuk menjawabnya mari kita lihat judul berikutnya.
Banyak yang orang atau golongan yang tidak menerima Alkitab sebagai firman Allah. Ada yang mengatakan bahwa Alkitab bukan firman Allah dan ada pula yang lebih halus sikapnya dengan mengatakan bahwa Alkitab berisi firman Allah. Pandangan yang pertama jelas bertentang dengan iman Kristen sedangkan yang kedua barangkali masih mengakui bahwa dalam Alkitab ada bagian-bagian tertentu yang merupakan firman Allah tetapi selebihnya bukan firman Allah. Jadi ini pun tidak dapat diterima.Sebenarnya dari asal-usulnya saja, kita bisa melihat bahwa Alkitab itu adalah firman Allah. Itu tak terbantahkan. Namun di sini kita akan mempelajari sedikit bagaimana Alkitab bisa dikatakan sebagai firman Allah. Alkitab disebut firman Allah, pertama karena Allah sendiri yang mengilhami seluruh penulisan isi Alkitab (2 Tim 3:16), tidak ada satu bagian pun dari Alkitab yang tidak diilhamkan Allah.
Lalu yang kedua, Alkitab disebut firman Allah karena di dalam Alkitab sendiri tertulis sekian banyak kalimat yang menegaskan bahwa Alkitab adalah firman Allah, misalnya berfirmanlah Allah (Kej. 1:3), firman Tuhan datang kepadaku, bunyinya (Yer. 1:4), ucapan ilahi dalam penglihatan nabi Habakuk (Hab. 1:1), Inilah wahyu Yesus Kristus (Wah. 1:1) dan masih banyak lagi yang lain. Kalimat-kalimat ini sudah lebih dari cukup untuk memberikan kesaksian bahwa Alkitab sebagai firman Allah.
Dan yang ketiga, kesaksian tokoh-tokoh di dalam Alkitab ikut meneguhkan kebenaran Alkitab sebagai firman Allah. Para penulis Perjanjian Baru seringkali mengutip ayat-ayat dari Perjanjian Lama dengan menganggapnya sebagai firman Allah contohnya Mat. 4:14-16 dan Yoh. 19:24. Dan yang keempat pengakuan Tuhan Yesus sendiri membenarkan bahwa Alkitab sebagai firman Allah. (Mrk. 12:10; Mrk. 7:6-7).
Sifat-sifat Alkitab adalah sebagai berikut :
Alkitab tidak mungkin keliru. Alkitab ditulis bukan atas kehendak manusia melainkan oleh dorongan Roh Kudus. Terjemahan atau cetakan bisa saja salah tetapi tulisan atau naskah asli tidak mungkin keliru.
Alkitab mutlak dibutuhkan manusia. Roma 10:17 mengatakan “iman timbul dari mendengar akan firman Kristus”. Tanpa Alkitab manusia tidak dapat mengetahui pernyataan-pernyataan Allah yang memanggil manusia kepada pertobatan melalui Yesus Kristus.
Alkitab berkuasa dan berwibawa. Alkitab sebagai firman Allah mempunyi kewibawaan / otoritas tertinggi dalam kehidupan manusia. Karena firman Allah Ya dan Amin. Ia tidak perlu dibela oleh siapapun karena ia mampu membela diriNya sendiri.
Alkitab adalah cukup. Alkitab tidak perlu didukung dengan buku-buku ataupun pernyataan-pernyataan lain sehingga tidak seorangpun boleh menambah ataupun mengurangi isinya (Wahyu 22:18-19)
Alkitab adalah terang. Kalau Akitab sulit dimengerti, maka tidak berarti bahwa Alkitab kurang terang.yang menjadikan ia kurang terang adalah akal budi kita sendiri yang gelap.
Alkitab mencapai maksud dan tujuannya. Adapun maksud dan tujuan Alkitab adalah memanggil dan menghantar manusia kepada keselamatan oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.
Alkitab merupakan satu kesatuan. Sekalipun ditulis oleh kurang lebih 40 orang, Alkitab tidak saling bertentangan isinya dengan yang lain. Karena semua digerakkan oleh Roh Kudus.
2. Apakah Alkitab itu benar-benar merupakan firman Allah ?
sebagai firman Allah yang benar sudah seharusnya Alkitab tidak mempunyai kesalahan, memiliki kewibawaan, asli dan bersumber dari Tuhan, dan ditulis memang berdasarkan inspirasi yang diberikan oleh Tuhan. Jadi apakah Alkitab memang benar firman dari Allah ? berikut adalah uraiannya sesuai dengan tugas kelompok yang diberikan akhir-akhir ini.
A. Innerency (firman Tuhan tidak memiliki kesalahan)
Dari penjabaran diatas tersebut mengantar kita untuk bertanya apakah Alkitab kita tidak memiliki kesalahan?. Kita telah melihat bahwa keadaan Alkitab bukan karena hasil karya manusia semata tetapi keseluruhannya adalah karya Roh Kudus melalui para penulis. Hal ini berarti bahwa otoritas tertinggi adalah Allah. Jika Allah yang bekerja dalam pembuatan Alkitab, Alkitab berkuasa dan tidak mengandung kesalahan sedikitpun.
Kata ineransi (inerrant) yang dalam arti sederhana tidak ada kesalahan. Namun dalam istilah teologis, tidak sesederhana itu. Kata ineransi dapat diartikan bahwa Alkitab memiliki kualitas bebas dari salah, kemungkinan untuk kesalahan, dan tidak dapat salah baik secara akademis, historis maupun spiritual. Untuk lebih jelas dapat dipahami melalui sebuah silogisme sederhana yang menacu pada topik sebelumnya bahwa Alkitab berasal dari Allah.
Pernyataan 1: “Allah adalah benar.”
Pernyataan 2: “Alkitab berasal (dinafaskan/diilhamkan) dari Allah.”
Kesimpulan : Maka Alkitab adalah benar [karena diinspirasikan oleh Allah yang benar].
Ineransi selalu merujuk kepada manuskrip yang asli yang berarti bahwa pada waktu fakta diketahui, Alkitab dalam tulisan aslinya, apabila diinterpretasikan dengan benar akan terlihat sepenuhnya benar dalam setiap pengajarannya yang berhubungan dengan segala aspek yang termaktub dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Dari silogisme di atas, maka segala kritik yang meragukan kewibawaan Alkitab sesungguh sekaligus menjadi keraguan secara langsung terhadap natur Allah. Hal ini bukan pembelaan skeptis tetapi sebuah koherensi yang runtut dalam keseluruhan Alkitab. Dengan demikian, ineransi Alkitab dapat dimengerti bahwa Alkitab benar dalam keselruhan dan dalam semua bagian, benar secara rohani, historis dan akademis, secara moral, maksud dan peneguhan tidak bisa salah. Allah berbicara kepada manusia dalam bahasa Alkitab (bisa disebut bahasa manusia) yang sepenuhnya adalah penyataan Allah sehingga tidak dapat dipertentangkan (secara umum pertentangan dalam iman dan penalaran).
Ketidak-kakuan dalam ineransi Alkitab dapat dilihat dalam beberapa hal bahwa ineransi mengijinkan adanya keragaman dalam gaya bahasa, keragaman rincian dalam menjelaskan peristiwa yang sama, untuk tidak menggunakan tata bahasa yang standar, ayat-ayat problematik. Ineransi juga tidak menuntut laoran kata demi kata dari suatu peristiwa dan juga tidak menuntut catatan itu mengajarkan kesalahan atau kontradiksi. Jadi, otoritas Alkitab tidak kurang dari otoritas Yesus Kristus sendiri karena Ia sendiri yang telah meneguhkan pengilhaman PL dan menyajikan dan menjanjikan PB. Kesaksian Yesus dan para rasul bersifat inerrant pada apa yang diajarkan. Alkitab yang ada saat ini adalah Firman Tuhan. Ineransi menjadi doktrin yang penting apabila dimengerti dengan benar. Alkitab berbicara secara akurat sesuai dengan kebenaran dalam semua penyataannya; baik itu hal teologis, historis, geografis dan geologis.
Meskipun demikian bukan berarti menutup kemungkinan adanya terhadap teori ineransi alkitab ini. Mengenai kebenarannya dapat disimpulkan bahwa kesalahan-kesalahan dapat mengajarkan kebenaran. Hal ini mungkin tidak beralasan karena hal-hal kroologis terlalu tercampur adukkan dengan hal-hal teologis. Oleh sebab itu, muncul pernyataan bahwa jika Alkitab tidak dapat dipercaya dalam hal kronologis historis, Alkitab tetap dapat dipercaya dalam hal kebenaran dan berita keselamatannya.
Alkitab telah terbukti secara historis tanpa salah selama lebih dari 3500 tahun sejak pembuatannya hingga hari ini, tidak ada satu keraguanpun yang ditujukan kepada supremasi Alkitab yang bertahan selama itu. Tidak ada karya manusia yang bertahan lebih dari dua abad, semuanya mengalami permaharuan. Itu berarti bahwa Alkitab bukan karya manusia tetapi Allah, yang kekal. Akhirnya, ‘Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2Ti 3:16)”. Jangan mempertanyakan otoritas Alkitab karena dengan demikian kita mempertanyakan keberadaan Allah.
B. Athority (kewibawaan Alkitab)
Defenisi seluruh alkitab adalah firman Allah; tidak mempercayai. Atau mentaati Alkitab berarti tidak percaya atau tidak taat kepada Allah. Dengan kata lain Alkitab memegang otoritas tertinggi dan terakhir untuk iman dan kehidupan orang percaya, karena Alkitab adalah firman yang datang dari Allah sendiri.
Bukti kewibawaan Alkitab dapat kita buktikan dengan banyak pembuktian contohnya yaitu, Banyaknya penggunaan kalimat "Demikianlah firman Tuhan...."yang identik dengan kalimat "Demikian kata Raja...". Hal ini menunjukkan bahwa alkitab berasal dari perintah atau mandat Allah, pemegang otoritas tertinggi, yang tidak dapat diubah-ubah dan harus dilaksanakan.(Mazmur 119 : 142, Mazmur 19:8, 2 Petrus 1 : 21) "Sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah."
Alkitab bukan sekedar buku biasa yang berisi pengalaman religi masa lalu seperti yang diyakini oleh sebagian orang tetapi merupakan wahyu/penyataan Allah (divine revelation). Allah menyatakan diri-Nya melalui Alkitab.
Alkitab berisikan kesaksian menyeluruh mengenai Allah yang menyatakan diri-Nya, kehendak-Nya serta karya penciptaan, pemeliharaan, penyelamatan, dan penggenapan-Nya kepada manusia dan dunia. Kesaksian Alkitab mengenai Allah ini cukup dan menjadi ukuran (kanon) bagi iman kita dan untuk menggumuli kehidupan iman kita dalam kesetiaan kepada-Nya. Kesaksian menyeluruh ini dipahami dan diajakan secara utuh (2009: 345)
Alkitab disebut pernyataan/wahyu Allah karena Roh Kudus berperan dalam mengilhami para penulis Alkitab. Allah menyatakan diri-Nya dalam Alkitab.
Alkitab ditulis dan disusun dengan kuasa dan bimbingan Roh Kudus, yang menyertai dan mengilhami para penulis dan penyusunnya. . . Dari sejarah tentang Alkitab kita mendapatkan informasi betapa rumit proses penulisan, pengumpulan, pelestarian kitab-kitab dalam Alkitab kita. Tidak dapat dibayangkan proses ini sebagai hasil dari perencanaan manusia saja. Karena itu kita percaya bahwa Roh Kudus berperan dalam hal ini (2009: 346, 347).
Bagaimana cara kia untu memahami Alkitab ?
Alkitab harus dipahami sebagai satu kesatuan, terutama ketika kita berusaha mendalami bagian-bagiannya. Kita menyadari adanya bahaya pemahaman yang menyimpang dari maksud Alkitab sebenarnya bila bagian-bagian Alkitab dipahami seolah-olah berdiri sendiri, atau dilepaskan satu dari lainnya. Dengan begitu kita tidak boleh mengabaikan keutuhan Alkitab yang tersedia bagi kita dan mengabaikan Pusat yang menyatukannya yaitu Kristus (2009: 346).
Pemahaman yang benar mengenai isi Alkitab serta penghayatannya terjadi dengan bimbingan Roh Kudus (Yoh 16:15, II Pet. 1:20-21). Semua perlengkapan yang teruji untuk membantu kita memahami Alkitab patut diabdikan bagi pemahaman yang benar. Di dalamnya kita percaya Roh Kudus bekerja, bukan saja secara ajaib tetapi juga secara wajar (2009: 348).
C. Inspiration (inspirasi Alkitab)
Inspirasi dapat didefenisikan sebagai pimpinan rohkudus pada para penulis, sehingga meskipun penulisan dilakukan dengan penulisan gaya dan kepribadian mereka, hasilnya adalah firmn Allah yang tertulis yang berotoritas, patut dipercaya dan bebas dari salah dalam autograf yang asli. Beberapa defenisi dari para teolog injili yang ternama adalah sebagai berikut.a
Benjamin B. Warfield: “ Oleh karena itu, Inspirasi biasnya didefenisikan sbagai suatu pengaruh supranatural dari Roh Allah yang menggerakkan par a penulis kitab suci, ssehingga tulisan mereka diyatakan memiliki kepatutan diipercya yang bersifat ilahi.
Edward J. Young inspirasi adalah pimpinan Allah roh kudus atas para penulis kitab suci, akibatnya, kitab suci itu memilki otoritas ilahi dan patut dipercaya. Dan karena memilki otorita ilahi serta patut dipercaya seperti itu, maka ia bebas dari salah.
Charles C. Ryrie : “ inspirasi adalah pimpinan Aallah atas penulis manusia dimana melalui penggunaaan kepribadian mereka masing-masing, mereka menyususn dan mencatat tanpa salah wahyu Allah pada manusia dalam kata-kata dari autograf yang asli
Unsur penting dalam defenisi Inspirasi :
1. Unsur ilahi Allah rohkudus memimpin para penulis untuk menjamin keakuratan dari tulisan.
2. Unsur manusia. Para penulis manusia menulis dengan cara dan kepribadian mereka masing-masing.
3. Hasil dari penulisan ilahi dan manusia ini adalah catatan dari kebenaran Allah yang tnpa salah.
4. Inspirasi meliputi seleksi kata-kata oleh par penulis.
5. Inspirasi berhubungan dengan manuskrip.
Alkitab itu diberikan melalui ilham Allah sebagaimana Rohkudus bekerja di dalam orang-orang yang dipilih, menyatakan kepada mereka pikiran Allah dan memampukan mereka untuk menggunakan kata-kata yang tepat untuk mengkomunikasikan kebenaran Allah tanpa kesalahan. Ilham (inspirasi) berasal dari kata latin yang artinya “bernafas dalam” atau “ke dalam” (in dan spiro) dan dari kata Yunani yang artinya “nafas Allah” (Theopneustos). Allah menaruh Rohkudus ke dalam para penulis Alkitab dan melalui Dia, membimbing mereka di dalam menuliskan Alkitab, maka “inspirasi” dapat didefinisikan sebagai proses melalui mana Allah menghembuskan Roh-Nya ke dalam manusia untuk memampukan mereka untuk menerima dan mengkomunikasikan kebenaran Ilahi tanpa kesalahan. Alkitab adalah Allah berbicara!
Para penulis Alkitab menulis, baik tentang fakta-fakta yang mereka ketahui maupun fakta-fakta yang mereka tidak ketahui tanpa ilham. Fakta-fakta yang mereka ketahui berasal dari pengamatan pribadi, dokumen-dokumen yang ada, atau tradisi mulut. Kebanyakan dari apa yang mereka tulis mereka ketahui untuk pertama kali melalui inspirasi dari Allah, baik mereka menulis fakta-fakta yang mereka ketahui atau wahyu, ilham Allah membimbing mereka untuk mengetahui hanya kebenaran, tanpa kesalahan dalam komunikasi.
D. Revilation (Pewahyuan alkitab)
Berkenaan dengan Alkitab maka, pewahyuan (revelation) berarti penyingkapan kebenaran oleh Allah kepada para nabi PL dan rasul PB, untuk ditulis menjadi kitab-kitab seperti yang sudah terdapat dalam Alkitab. kata wahyu (reveal) muncul sebanyak 51 kali, dalam PL 22 kali dan PB 29 kali. Kata ini dalam bahasa Ibraninya adalah galah yang arti dasarnya adalah ketelanjangan (nakedness). Jika dikenakan pada pewahyuan maka berarti menghilangkan rintangan untuk mengamati atau membuka penutup suatu obyek untuk mengamatinya. Kata yang mirip dengan istilah Ibrani di atas adalah apokalupto dalam bahasa Yunani yang berarti penyingkapan.
Akibat dari pewahyuan adalah menjadikan para nabi dan para rasul lebih bijaksana sehingga mereka mengerti firman, kehendak, serta rencana Allah. Penulis Alkitab yang bukan nabi maupun rasul, seperti penulis kitab Ester (yang diperkirakan ditulis Mordekhai) atau Lukas penulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, tidak mendapat wahyu dari Tuhan, tetapi mendapatkan ilham sehingga mereka menulis..
Beda pewahyuan dan pengilhaman adalah seperti yang dijelaskan oleh Charles Hodge berikut ini. Wahyu dan ilham pertama-tama berbeda dalam obyeknya. Obyek wahyu adalah pengkomunikasian pengetahuan, sedangkan obyek dari ilham adalah untuk mengamankan. pengajaran. Konsekuensi dari perbedaan ini adalah timbulnya perbedaan yang kedua, yaitu dalam hal akibatnya. Akibat dari wahyu adalah menyebabkan penerima wahyu menjadi lebih bijaksana, sedangkan akibat dari ilham adalah menyebabkan penerima wahyu tadi dijaga dari kesalahan di dalam pengajarannya.
E. Canonitas (Kanonisasi Alkitab)
Kata kanon, seperti dikutip oleh F.F. Bruce dari R.P.C. Hanson, memiliki arti yang sederhana yaitu daftar buku yang dimuat di dalam Alkitab, atau di dalam konteks Kristen boleh didefinisikan kata itu sebagai daftar dari tulisan-tulisan gereja sebagai sebuah dokuman dari inspirasi ilahi.
Kata kanon berasal dari kata Yunani kanon yang berarti batang, tangkai atau tongkat, secara khusus tongkat yang lurus sebagai sebuah pengukur. Dari penggunaan ini datang arti lain yang umumnya terkandung di dalam bahasa Inggris ‘rule’ atau ‘standard.’
Siapakah yang berhak mengumpulkan dan menentukan kitab-kitab dalam Alkitab seperti yang kita ketahui sekarang yakni 66 kitab, dan atas otoritas siapakah mereka melakukan hal itu? Ada satu prinsip yang sangat penting yang ditulis Paul Little di dalam bukunya Know What You Believe, yaitu bahwa di dalam proses kanonisasi harus disadari bahwa sebuah kitab adalah kitab yang diinspirasikan dengan menggolongkan kitab itu ke dalam kanon. Penggolongan ke dalam kanon hanyalah pengenalan otoritas sebuah kitab yang sudah dimilikinya.
Jika sebuah kertas berwarna putih, maka warna putih dari kertas tersebutlah yang membuat kita mengatakan bahwa kertas itu putih dan bukan karena kita mengatakan kertas itu berwarna putih sehingga menjadi putih. Demikianlah dengan proses kanonisasi. Bukan bapa-bapa gereja yang menentukan sebuah kitab masuk ke dalam kanon atau tidak. Mereka sama sekali tidak memiliki otoritas untuk itu. Tetapi kitab-kitab tersebutlah yang menyatakan diri mereka firman Allah. Bapa-bapa gereja hanyalah mengumpulkan mana kitab-kitab yang berotoritas ilahi dan menyisihkan mana yang tidak.
Alkitab Perjanjian Lama tidak terlalu bermasalah, karena seluruh kitab-kitab Perjanjian Lama sudah diterima dan diakui oleh orang-orang Yahudi, sejumlah yang kita kenal sekarang. Bahkan sekitar tahun 70 sebelum masehi, sudah diterjemahkan oleh sekitar 70 ahli Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani, di kota Aleksandria, Mesir. Terjemahan tersebut disebut sebagai septuaginta (LXX). Menurut W. Gary Crampton, kanon Perjanjian Lama sudah lengkap pada tahun 400 sebelum masehi, tetapi menurut Paul Little, kanon perjanjian Lama tidak diketahui dengan pasti kapan sudah lengkap. Mengenai kanon Perjanjian Baru, H. Berkhof mengatakan bahwa kanon tersebut sudah ditetapkan kira-kira tahun 200 dan secara definitif tahun 380. Sedangkan menurut W. Gary Crampton, Kanonisasi terakhir terjadi pada tahun 397 masehi di konsili Kartago.
Crampton juga menyatakan bahwa Perjanjian Lama diterima oleh bapak-bapak gereja pada saat kanonisasi karena, kepenulisannya bersifat kenabian, penerimaan oleh agama dan orang Yahudi secara Historis dan konsistensi doktrin dalam keseluruhan Perjanjian Lama. Kemudian Perjanjian Baru juga sama yaitu, bersifat kerasulan, penerimaan oleh gereja mula-mula, dan konsistensi doktrin serta keselarasan Alkitab.Dalam bukunya Little, seperti yang dikutipnya dari J.N. Birdsell, Canon of The New Testament, kanon Perjanjian Baru dikonfirmasikan pada saat konsili di Kartago tahun 397 dengan mengunakan tiga kriteria yaitu:
1. Apakah kitab itu bersifat kerasulan dari awalnya?
2. Apakah kitab itu digunakan dan dikenali oleh gereja-gereja?
3. Apakah kitab tersebut mengajarkan doktrin yang benar?
Yang pertama, apakah bersifat kerasulan atau tidak? Hal ini berarti bahwa kitab-kitab tersebut harus ditulis oleh rasul-rasul Yesus Kristus sendiri yaitu keduabelas rasul dan rasul Paulus (Yudas tentu tidak termasuk ke dalam golongan ini, jabatannya sudah diganti oleh Matias, Kis. 1:26), yang juga mendapat panggilan langsung dari Tuhan di dalam perjalanannya ke Damsyik, Kis. 9:3-6. Bandingkan juga dengan I&II Kor. 1:1;Gal. 1:1; Ef.1:1; I&II Tim.1:1; Tit.1:1. Tetapi ada juga kitab-kitab yang tidak ditulis oleh rasul-rasul sendiri, seperti kitab Injil Markus yang ditulis Markus, Injil Lukas dan Kisah Para rasul yang ditulis oleh Lukas serta surat Yakobus dan Yudas yang ditulis oleh Yakobus dan Yudas saudara-saudara Tuhan Yesus. Mereka semua bukanlah rasul tetapi mereka menulis di bawah pengaruh rasul-rasul.
Markus pernah berada di bawah pengaruh Paulus karena pernah menyertai Paulus di dalam perjalanannya, yang menjadi penyebab perselisihan antara Paulus dan Barnabas. Kis. 15:37-40. Secara khusus ketika Markus menulis Injil Markus, dia berada di bawah pengaruh dan bimbingan rasul Petrus. Sedangkan Lukas adalah rekan Paulus. Tidak diragukan lagi bahwa dia berada di bawah pengaruh dan bimbingan Paulus. Yakobus dan Yudas yang pada awalnya tidak percaya kepada Yesus, Yoh. 7:3-5, pada akhirnya mereka menjadi percaya, dan sejak mula mereka berada bersama-sama rasul-rasul di Yerusalem, Kis. 1:14.
Mengenai kitab Ibrani, yang penulisnya tidak mencantumkan nama, jika Paulus yang menulisnya, tidak ada masalah. Tetapi Jika Apolos, seperti pendapat sebagian ahli PB, maka kita dapat berargumen bahwa dia berada di bawah pengaruh Paulus. Hal ini bisa kita lihat dari dua hal yaitu:
1. Paulus menyebut Apolos di dalam suratnya, yang secara tidak langsung meneguhkan pelayanan Apolos dan kedekatan Paulus dengannya. Pertama, di dalam I Kor. 3:4-6. Walaupun tulisan Paulus ini untuk mengecam dan menyelesaikan perselisihan jemaat Korintus, tetapi Paulus mengatakan bahwa dirinya yang menanam dan Apolos yang menyiram. Pernyataan ini langsung meneguhkan kredibilitas pelayanan Apolos. Kedua, I Kor. 16:12. Di dalam ayat ini Paulus menulis bahwa ia mendesak Apolos untuk datang ke Korintus. Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki hubungan yang erat sekali di dalam pelayanan.
2. Konsep teologi Apolos pernah diluruskan oleh Priskila dan Akwila. Kita tahu bahwa Priskila dan Akwila adalah rekan pelayanan Paulus yang sangat dekat. Mereka dan Paulus, sama-sama pembuat tenda, Kis. 18:2-3. Doktrin atau teologi Priskila dan Akwila pasti dibentuk oleh pengajaran Paulus. Jadi, kedekatan antara Apolos dengan Priskila dan Akwila, menjadikan Apolos secara tidak langsung berada di bawah pengaruh bahkan bimbingan Paulus. Sehingga seandainya jika bukan Paulus yang menulis kitab Ibrani tetapi Apolos, maka tetap tidak menjadi masalah. Ke 27 kitab PB, lulus di dalam ujian yang pertama ini.
Yang selanjutnya adalah apakah kitab-kitab tersebut dikenali dan digunakan oleh gereja-gereja saat itu? Pengakuan adalah penting sekali. Jika sebuah kitab hanya diakui dan digunakan oleh sebuah jemaat saja, maka otoritas dari kitab tersebut patut dipertanyakan. Jika kitab itu sungguh-sungguh firman Allah, maka tentu dikenal dan digunakan secara luas oleh gereja-gereja saat itu. 27 kitab PB adalah kitab-kitab yang sudah lulus ujian ini.Yang Ketiga, apakah kitab-kitab itu, mengajarkan doktrin yang benar? Banyak kitab-kitab apokrifa yang ditulis pada abad kedua, yang masih mirip dengan kanon, tetapi di dalamnya ada muatan-muatan ajaran gnostik dan panteisme. Itu sebabnya injil-injil palsu seperti injil Thomas, injil Yudas, injil Maria Magdalena dan lain-lain, bahkan yang muncul paling belakangan yaitu injil Barnabas, kita tolak. Tetapi, ke 27 kitab PB yang menjadi kanon, sangat sepakat di dalam doktrin yang disuarakannya. Itu sebabnya, kitab-kitab itu lulus juga pada ujian ini.
F. Iluminasi
Kata "iluminasi" berasal dari bahasa Yunani "photizo", artinya "menerangi, memberi penerangan batin" (Yoh 1:9; Luk 11:36; 1 Kor 4:5; Efe 1:18). Berdasarkan pengertian etimologis tersebut kita bisa mengambil definisi dari Iluminasi adalah sebagai berikut: Pekerjaan Roh Kudus yang membantu membukakan pikiran dan hati orang percaya supaya mereka dapat mengerti (menafsirkan) Alkitab dengan benar dan mengaplikasikan kebenaran itu dengan sunguh-sungguh dalam kehidupan mereka (1 Kor 2:14).
Mengapa untuk mengerti Alkitab kita membutuhkan bantuan Roh Kudus? “Karena pikiran dan hati manusia ada dalam kegelapan (1 Kor 2:14; Efe 4:17, 18). Roh Kudus berfungsi sebagai penerang sehingga pikiran dan hati manusia dapat melihat kebenaran dengan benar”.
Karena sifat hati manusia yang bebal (Yes 6:9-10; Kis 28:26). Walaupun Alkitab menyatakan kebenaran, manusia tidak mau melihat kebenaran karena manusia hanya tertarik kepada diri sendiri dan bukan kepada hal-hal yang Allah kehendaki. Karena melawan pekerjaan Setan (2 Kor 4:3-4). Setan tidak ingin manusia mengetahui kebenaran dan manusia tidak mungkin mampu melawan setan yang penuh tipu muslihat, kecuali Roh Kudus yang menolong.
Karena manusia sangat dipengaruhi oleh kuasa kedagingan (1 Kor 3:1-2; Ibr 5:12-14). Apa yang disukai Allah, yaitu kebenaran, tidak disukai manusia. Tanpa campur tangan Roh Kudus manusia tidak mungkin mau mengikuti kebenaran, karena ia telah dikuasai oleh roh kedagingan yang mencintai diri sendiri.
Hubungan Inspirasi dan Iluminasi
Dalam Inspirasi, Roh Kudus memberikan ilham kepada para penulis Alkitab, sehingga mereka dapat menuliskan Penyataan Tuhan dengan benar dan tepat sesuai dengan yang Allah kehendaki. Dalam Iluminasi, Roh Kudus memberikan penerangan kepada para pembaca Alkitab agar mereka dapat mengerti dan menerima apa yang dimaksudkan oleh Penyataan Tuhan yang tertulis itu dengan benar dan tepat.
Hal yang membedakan antara Inspirasi dan Iluminasi adalah bahwa pekerjaan Roh Kudus dalam penginspirasian Alkitab sudah selesai. Tidak akan ada lagi inspirasi (wahyu) baru di luar Alkitab, karena Alkitab yang kita miliki sekarang sudah lengkap dan sempurna. Tetapi pekerjaan Roh Kudus dalam memberikan iluminasi-iluminasi baru kepada orang-orang percaya masih berlaku hingga saat ini. Roh Kudus memberikan iluminasi tetapi tidak untuk menambah dari apa yang sudah ada dalam Alkitab. Dan Roh Kudus bekerja dengan Firman dan melalui Firman, tetapi tidak melawan Firman. Itu sebabnya, Alkitab harus menjadi tolok ukur untuk kita mengkonfirmasikan segala sesuatu yang kita percaya, pelajari, dan yang kita lakukan (Maz 119:105).
Jadi, dengan kata lain, pekerjaan Roh Kudus dalam memberikan inspirasi kepada para penulis Alkitab sudah selesai sejak dari jaman rasul-rasul, tetapi Roh Kudus terus bekerja hingga saat ini untuk memelihara Alkitab yang diinspirasikan itu, dan menolong/membimbing orang percaya untuk mengerti maksud isi Alkitab tersebut ketika mereka mempelajarinya.
Peranan Roh Kudus dalam Iluminasi
Roh Kudus memiliki tugas untuk menerangi (mengiluminasi) pikiran dan hati manusia, sehingga manusia yang sedang mempelajari Alkitab itu dapat mengertinya dengan benar sesuai dengan apa yang dimaksud oleh Allah. Roh Kudus tahu persis isi hati dan pikiran Allah, karena Dialah yang ada di belakang proses penulisan Alkitab. Jika tujuan Allah memberikan Alkitab adalah supaya Ia dikenal oleh manusia, maka tujuan akhir iluminasi adalah supaya manusia mengenal Allah dengan benar melalui Penyataan-Nya (Alkitab), sehingga manusia mengerti akan kehendak Tuhan dan melakukan apa yang berkenan kepada Allah. Dengan demikian hasil akhir yang diharapkan adalah hanya Allah saja yang ditinggikan dan dimuliakan.
Sebagai kesimpulan, Roh Kudus mempunyai peran bukan hanya sebagai Penulis Alkitab, tetapi juga sebagai Penerang (iluminasi) dan Penafsir Alkitab, bahkan sekaligus Pengajar Alkitab. Karena Roh Kudus lah yang memimpin maka dijamin bahwa apa yang ditulis, dinyatakan dan dipelajari manusia tidak akan salah, karena semuanya dikerjakan oleh Oknum Ketiga dari Allah Tritunggal yang sama, yaitu Roh Kudus ( Efe 3:4, 5, 1 Kor 2:12, 13, Yoh 14:26, Yoh 16:13-15, 2 Pet 1:21 ).
G. Keperluan Mutlak (Necessity)
Defenisi keperlan mutlak adalah Alkitab diperlukan secara mutlak untuk mengenal kristus, agar kita bisa diselamatkan. Karena hanya alkitablah yang memberitakan kebenaran “kabar baik” tentang kristus (Rom 1:16). Penekanan disini bukanlah keperluan untuk mengenal Allah dalam arti keberadaan dan sifat-sifat umum Allah, dan hal-hal tentang moralitas. Karena Alkitab adalah satu-satunya sumber untuk mengenal Allah; Injil yang mempunyai kuasa yang menyelamatkan maka manusia harus membaca Alkitab atau mendengar dari orang lain Firman dalam Alkitab.
Kesimpulan
Akhirnya bisa disimpulkan di sini bahwa Alkitab berasal dari Allah saja dan menyatakan kepada manusia siapa itu Allah. Karena Alkitab berasal dari pada Allah maka bisa dikatakan Alkitab merupakan firman Allah yang berbeda dengan semua buku-buku yang ada di dunia ini. Selain itu Alkitab juga memiliki sejumlah ciri-ciri yang menegaskan akan kewibawaannya sebagai firman Allah.
Allah sudah melakukan bagian-Nya, yaitu memberikan Alkitab dan menyatakan diri-Nya di situ. Sekarang bagian kita, yaitu menerima Alkitab itu dengan rendah hati sebagai firman Allah. Lalu membaca dan merenungkannya sehingga dari situ kita boleh semakin mengenal Allah dan dengan semakin mengenal-Nya tentu kita akan semakin mengasihi-Nya.
Dari pemaparan tentang sifat-sifat Alkitab, kita dapat memastikan bahwa Alkitab merupakan Fiman Allah yang memiliki otoritas. Alkitab memang sebuah Karya Ilmiah namun tidak sama dengan Karya Ilmiah lainnya karena Alkitab di inspirasikan atau di wahyukan oleh Allah kepada manusia dan Roh kudus membimbing/menuntun orang-orang yang dipilih Allah untuk menuliskan Alkitab. Lkitab masih relevan sampai kapanpun sebab Alkitab adalah perkataan Allah yang kekal yang tidak berkesudahan sampai akhir zaman/ sampai kedatangan-Nya yang kedua kali.
mau tau dong waktu dan sejarah
BalasHapuspakai buku apa-apa aja ini Min???
BalasHapus